Seks yang Mengundang Maut

Mariska Lubis

MARISKA LUBIS

PERNAH dengar orang mati di pantai gara-gara “bermain” di dalam mobil, kan? Itu, sih bodoh! Kalau yang satu ini, pasti jarang ada yang dengar dan jangan sampai Anda alami!

Kriiingggg!!!
“Halo!”
“Ka… tolong! Ke sini… Cepat!!!
“Halo!!! Halo! Hallooooo…!!!
Panik.

Buru-buru saya masuk ke dalam mobil. Masih pakai daster pula! Jam dua pagi, sih! Segera saya berangkat ke daerah Bintaro, tempat teman saya itu tinggal! Untungnya saya masih tinggal di BSD, jadi jaraknya nggak terlalu jauh. 15 menit pun sudah sampai di depan rumahnya.

“Ada apa? Kenapa?”
“Ndak tahu, Bu! Saya tadi Cuma dengar bapak teriak minta saya nunggu di sini. Katanya, ibu mau datang.”
“Kamu bener nggak tahu?!”
“Nggak!”
Waduuuhhhh! Makin panik

Saya segera masuk dan langsung menuju kamar tidurnya. Habis ke mana lagi coba? Dia nggak ada di mana-mana, pasti ada di dalam situlah!

Tok tok tok…
“Masuk! Nggak dikunci! Masuk…!!!
Saya pun masuk.
Aduuuuhhhhh!!!!

Dua orang tanpa busana, saling bertumpukan, tapi dua-duanya pucat pasi! Tubuh mereka tegang dan kaku! Nggak beres, nih! Ganjet, gila!!!

Sebetulnya saya juga kurang yakin apa benar itu ganjet. Belum pernah lihat, sih! Namun konon menurut cerita orang-orang, ya seperti itu. Yang pasti, saya segera menelpon rumah sakit terdekat untuk mengirimkan tim medis. Untunglah mereka segera datang dan memberikan pertolongan. Akhirnya pasangan suami istri itu pun bisa lepas dan wajahnya dapat berubah warna menjadi normal kembali. Hanya nafasnya saja yang masih belum stabil. Perlu waktu beberapa lama untuk menetralisir keadaan mereka. Setelah itu, mereka langsung diangkut ke rumah sakit.

Beberapa hari kemudian, setelah dinyatakan sembuh tentunya, sang suami mengajak saya ngopi di salah satu tempat dekat tempat saya bekerja. Ingin menyelesaikan masalah, katanya.

Saya tidak pernah menduga hal ini bisa sampai terjadi, tetapi sejak awal pernikahan mereka, bahkan sewaktu mereka masih pacaran pun saya sudah takut kalau-kalau akan ada terjadi sesuatu yang nggak beres dalam hubungan seksual mereka. Masalahnya, sang istri pernah diperkosa oleh ayah tirinya. Bukan hanya sekali tapi berulang-ulang. Malah pernah sampai menggugurkan kandungan segala. Saya yakin akan ada pengaruh yang besar terhadap kejiwaannya. Soalnya, dia suka berkelakuan aneh menurut saya. Sering murung dan bermuram durja. Menangis tanpa alasan yang jelas. Mindernya? Buanget!!!

Terjadinya kejadian ini pasti berhubungan erat dengan trauma yang dialaminya itu. Bisa jadi dia tiba-tiba teringat kejadian saat dia perkosa, lalu stres dan tegang. Akibatnya, seluruh ototnya menjadi kaku, termasuk otot di sekitar kemaluannya hingga tulang pinggul dan tulang kemaluannya menjadi “mengunci”. Terkuncilah penis sang suami di dalam sana! Kebayang sakitnya kayak apa! Kalau tidak segera ditolong… maut bisa menjemput, lho!

Masih ingat sewaktu mereka belum menikah, saya dan teman-teman dekatnya pernah membahas masalah ini.

“Apa kamu siap menerima semua resikonya?”
“Siap! Siap banget! Saya sangat mencintainya. Saya tidak bisa hidup tanpa dirinya. Saya seratus persen siap!”
Ya sútralah kalau siap! Siapa yang berani melarang?

Setelah bicara panjang lebar, akhirnya dia sepakat untuk membawa istrinya ke dokter jiwa. Tidak ada lagi jalan keluar. Ini satu-satunya. Pasti akan memakan waktu yang tidak sebentar, tetapi saya bilang, “Kalau kamu memang mencintainya, kamu pasti akan selalu memberikan yang terbaik untuknya.”

Dua tahun berselang, mereka sepakat untuk bercerai. Sang suami awalnya tidak menghendaki, biarpun dia “puasa” terus, tetapi sang istri mendesak. Dia tidak sanggup, katanya. Lebih berat baginya untuk bisa menyembuhkan diri di mana pada saat yang bersamaan dia harus diderita rasa bersalah yang amat besar terhadap suami yang amat mencintai dan menyayanginya.

Saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya bisa mendoakan saja supaya mereka diberikan yang terbaik. Itu saja! (ASA)

Salam Kompasiana,

MARISKA LUBIS

Sumber:  Kompasiana

<!–This entry was posted on Tuesday, September 29th, 2009 at 3:05 am and is filed under Gayahidup, Pusparagam, Sosial. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site. –>

//

Share on Facebook Share on Twitter

~ oleh Mariska Lubis pada September 29, 2009.

6 Tanggapan to “Seks yang Mengundang Maut”

  1. salah satu alesan kenapa gw bertahan dalam pernikahan yang sakit.
    gw ga mau anak gw ngalamin apa yang dialamin perempuan temen mariska itu.

    salam kenal
    alysa

  2. Amin…. teruskan ya!!!

  3. Bahkan dalam mimpi saya yang paling buruk pun saya tidak bisa membayangkan penis suami bisa terkunci dalam otot panggul istrinya.
    Senang dengar sang istri akhirnya mendapatkan pertolongan yang tepat.
    Mudah-mudahan bisa jadi bahan pembelajaran buat wanita-wanita yang pernah diperkosa, supaya mereka bisa mencari pertolongan psikologis buat diri mereka secepat mungkin.

    • yah… daripada lebih parah… lebih cepat lebih baik… nggak usah takut buat minta pertolongan… semua pasti bisa diselesaikan… ;)

  4. Tersentuh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: