“Eeeemmmmm!!! Kalau Disunat Apanya yang Dipotong???!!!!”

Mariska Lubis

MARISKA LUBIS

TERIAK Marra, anak saya yang paling besar, dari dalam kamar mandi. Buru-buru saya masuk ke sana dan tampaklah dia sedang berada di depan cermin.

“M (panggilan manis untuk saya, kependekan dari Mami Mariska)! Apanya, dong, yang dipotong? Penis saya nanti jadi hilang, nggak?”

Dengan perasaan sedikit geli, saya pun menjelaskan bahwa yang dipotong adalah kulit luar ujung penisnya saja. Penisnya tetap akan ada dan tidak dipotong sama sekali.

“Sakit nggak?”
“Sedikit! Anak M, kan, hebat. Kalau cuma sakit segitu, sih, yaaahhhh nggak ada apa-apanya. Keciiillll.”

Biarpun tidak tahu bagaimana rasa pastinya, tapi saya tidak ingin membohongi ataupun menakuti-nakutinya.

Setelah mengerti dia pun tidak pernah lagi bertanya-tanya soal sunat kepada saya, kecuali, “M, kapan saya disunat? Saya sudah siap, nih!”. Hehehehe…

Setiap kali dia bertanya soal kapan disunat, setiap kali juga saya teringat saat dia baru “ngeh” perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Waktu itu kalau tidak salah pada saat dia masih berumur empat tahunan.

“M, sebenarnya ini namanya apa? Kata teman saya di sekolah, ini namanya burung, tapi kenapa kamu bilang ini penis?”
“Dari mana kamu tahu dia sebut itu burung?”
“Waktu pipis sama-sama di kamar mandi.”
“Ooooh! Kalau menurut kamu itu penis atau burung?”
“Penis. Soalnya kalu burung, kan, yang bisa terbang. Masa ini bisa terbang juga?”

Bagus-bagus. Paling tidak dia mengerti konsep perbedaan katanya.

“Memang itu namanya penis, sayang, bukan burung. Penis nggak bisa terbang sayang. Dan itu adalah yang membuat kamu berbeda dengan M. Kamu disebut laki-laki karena kamu punya penis. Makanya, kamu harus jaga baik-baik kebersihannya dan juga harus bangga, ya. Soalnya peníslah yang membuat kamu disebut sebagai laki-laki.”

Saya memang sengaja menekankan kata keberihan karna saya tidak mau dia terlalu sering bermain-main dengan penisnya. Apalagi dengan tangan yang kotor. Sedangkan penekanan kata bangga di sini karena saya tidak mau kelak kemudian nanti dia harus berurusan dengan masalah ukuran penis, yang diidab oleh kebanyakan pria. Masalahnya, ukuran seharusnya tidak terlalu dipikirkan, kecuali memang ukurannya terlampau kecil atau terlampau besar versi ilmu kedokteran. Masa dia nanti jadi nggak pede hanya gara-gara penis, sih?! Nggak lah, yaw!

“Kalau yang kamu namanya apa, M?”
“Saya punya vagina, dan saya bangga karena ini yang membuat saya menjadi seorang perempuan.”

Saking senangnya dia mendapat “pencerahan” soal ini, hampir setiap pulang sekolah dia berkata, “Hai, M! Saya punya penis. Kamu punya vagina, kan?”. Saya, sih, cuma senyum-senyum saja sampai pada suatu hari, saya mengajaknya pergi ke sebuah mal. Dia saya antar masuk ke dalam sebuah toko mainan untuk bersenang-senang di sana, sementara saya menunggunya di sebuah kedai kopi yang berada tepat di depan toko itu.

Tak lama berselang, dia pun muncul dengan wajah berseri-seri sambil melambaikan tangan ke arah saya. Lalu dia pun berlari dan berteriak sekeras-kerasnya, “Mami Vagina… Mami Vagina…!!!” Waduh!

Begitu juga saat dia berumur tujuh tahunan, saat dia baru pertama kali menjenguk saya dan adik perempuannya, Manar, yang baru saja lahir.

“M, memangnya adik keluar dari mana, sih? Kok, perut kamu nggak berdarah?”
“Memang bukan keluar dari perut sayang, tapi dari vagina.”
“Hah! Sama kayak pipis, dong?”
“Nanti M jelaskan kalau sudah pulang ke rumah, ya.”
“Satu lagi, M. Kalau anak keluar dari vagina kamu, berarti dia anak kamu. Terus kenapa saya jadi anak Pi (panggilan sayang untuk papanya, singkatan dari Papa Doel) juga?”
“Iya, ya, nanti, deh, M jelaskan sekalian.”

Yang namanya janji sama anak harus ditepati. Kalau tidak, dia pasti akan kecewa atau terus-terusan merengek minta penjelasan. Saya pun kemudian menerangkan bahwa vagina adalah bagian dari alat reproduksi wanita, yang merupakan jalan masuk sperma ke dalam rahim dan jalan keluarnya anak dari dalam rahim. Sedangkan jalan keluarnya kencing, disebut dengan uretra. Tidak lupa juga saya menjelaskan tentang sperma dan telur yang kemudian bersatu dan membelah, yang kemudian menjadi janin dan keluar menjadi anak.

Cukup ruwet juga menjelaskannya, saya sampai menggambar segala biar dia bisa cepat mengerti. Untungnya dia tidak bertanya bagaimana cara masuknya sperma ke dalam vagina. Kalau untuk yang satu itu, rasanya saya juga belum siap, deh!

Sayangnya, saya waktu itu menggambar sperma seperti kepala ayahnya yang diberi ekor. Maksudnya, sih, biar dia mengerti kenapa dia disebut sebagai anak ayahnya juga, tapi sewaktu penjelasan usai, dia jadi berkomentar, “M, kalau begitu, kalau saya besar nanti, sperma saya ada kepalanya juga dong, kaya kepala saya.” Hehehe…. Kali ini kepala saya yang gatal mendadak.

Memberikan pendidikan seks untuk anak memang susah-susah gampang, tetapi sebaiknya tidak dihindari karena akan sangat berbahaya jika kemudian dia mencari-cari sendiri. Kalau jawabannya benar, mungkin tidak masalah, kalau salah? Dan alangkah baiknya jika kita sebagai orang tua mereka jadikan tempat bertanya sehingga kita bisa memberikan masukan yang benar dan tepat. Mereka pun akan jadi lebih percaya dengan omongan kita dibandingan dengan omongan orang lain.

Penggunaan istilah ilmiah dan kedokteran, menurut saya, lho, adalah solusi yang paling tepat untuk menjelaskan. Soalnya, ini tidak porno, tidak vulgar, sangat ilmiah, dan yang paling enak adalah sulit untuk diingat dan diucapkan! Biar nggak terlalu banyak tanya-tanya lagi, cukup sekali itu saja! Malas, kan, kalau harus terangin berkali-kali?!

Selain itu, penggunaan kata yang salah, seperti “burung” tadi, bisa memiliki efek psikologis yang terus melekat sampai dia dewasa nanti. Rasa takut kehilangan penis karena bisa terbang, bisa membuat seorang pria secara tidak sadar akan selalu merasa khawatir akan penisnya. Dipegangiiiiin…. terus! Biar nggak terbang!

Jadi mendingan pikir-pikir dua kali jika hendak memberi “nama”. Salah-salah nanti dia pikir penisnya boleh terbang kemana-mana lagi! Bisa lebih berabe lagi, tuh, urusannya! Hehehe…

Salam,

MARISKA LUBIS

mariskalubis@yahoo.com

Tulisan ini dapat juga dibaca di  Kompasiana

Share on Facebook Share on Twitter

~ oleh Mariska Lubis pada September 21, 2009.

3 Tanggapan to ““Eeeemmmmm!!! Kalau Disunat Apanya yang Dipotong???!!!!””

  1. Mbak Mariska,
    Salam kenal, saya mendapat pencerahan dengan tulisan ini, bisa jadi pengalaman nerangin ke anak2 nantinya…

    salam,

  2. andai semua orang tua secanggih kamu non , pasti ngak ada orang jalan2 pamer “burung” di tempat umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: