Frekuensi Seks Menurun?

Mariska Lubis

MARISKA LUBIS

LAGI-lagi pria dengan masalah seksualnya, tetapi kali ini soal frekuensi hubungan seksnya yang menarik perhatian saya.

Menurut gosip yang beredar,  frekuensi hubungan seksual pria Indonesia, terutama yang berada di kota besar, jauh dari ukuran normal. Dianjurkan seminggu paling tidak tiga kali, tetapi satu kali seminggu pun sudah luar biasa. Benarkah begitu?

Kabarnya lagi, penurunan frekuensi hubungan seksual ini akibat pengaruh stres yang tinggi, apalagi sekarang ini tuntutan ekonomi sangatlah berat terasa. Padahal, menurut ilmu kedokteran, stres tinggi justru memicu adrealin yang mengakibatkan jumlah hormone testosterone meningkat. Apa ini juga penyebab hubungan seks di luar pasangan tetap (istri atau pacar tetap), yang menurun sedangkan dengan Wanita Idaman Lain atau “Jajanan” justru meningkat?

Penasaran dengan hal ini, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan survey kecil-kecilan terhadap 150 pria berusia 30-40 tahun secara acak, semuanya pekerja, dan tinggal di kota Kembang. Mereka semua saya ajukan pertanyaan yang sama perihal hubungan seksual.

Mengapa saya memilih pria berusia 30-40 tahun? Karena pria di usia tersebut cenderung memiliki aktifitas yang tinggi, penuh dengan ambisi, dan biasanya baru memiliki keluarga dengan anak-anak yang masih kecil. Tuntutan terhadap pemenuhan kebutuhan pribadi dan keluarga sangat besar sehingga stress juga menjadi tinggi. Di lain sisi, secara fisik, kebutuhan seksual mereka juga masih sangat besar karena kebenyakan masih memiliki kondisi fisik yang baik, tingkat hormon testosterone yang normal, dan kemampuan seksual yang masih baik pula.

Kota Bandung menurut saya tepat untuk dijadikan tempat untuk melakukan survey tentang hal ini. Selain karena saya tinggal di kota berhawa sejuk ini, Bandung juga gudangnya wanita-wanita cantik, tempat-tempat yang indah, dan suasananya yang santai cenderung membuat orang ingin berleha-leha. Di lain sisi, kota yang hanya berjarak dua jam dari ibukota ini memiliki tuntutan hidup yang kian hari kian besar, sementara pendapatan jauh di bawah pendapatan di kota Jakarta. Saya berasumsi bahwa perselingkuhan banyak terjadi di kota ini.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah: Kapan pertama kali Anda melakukan hubungan seks?. Saya ingin tahu sejauh mana pengetahuan seks mereka. Semakin muda mereka melakukannya, berarti semakin “berpengalaman” mereka. Hasilnya, 5% melakukannya di bawah usia 15 tahun, 59% di antara usia 15-20 tahun, 44% di antara usia 20-25 tahun, dan sisanya di atas 25 tahun. Kesimpulannya, mereka memiliki pengalaman seks yang cukup, karena hampir seluruhnya melakukan hubungan seks di usia relatif masih muda. Di tambah lagi dari hasil jawaban pertanyaan berikutnya: “Dengan siapa Anda melakukan hubungan seks pertama kali?, adalah 62% dengan pacar, 17% dengan istri, sisanya dengan teman dan wanita tak dikenal (termasuk yang dibayar!).

Masuk ke pertanyaan soal frekuensi hubungan seksual mereka akhir-akhir ini, hanya 9% yang menjawab lebih dari 3 kali seminggu dan 16% yang menjawab antara 2-3 kali seminggu. Kebanyakan, ada 48%, menjawab satu kali seminggu dan sisanya kurang dari satu kali seminggu. Bisa saya asumsikan bahwa kebanyakan dari mereka hanya bisa melakukannya pada saat akhir pekan saja, sedangkan hari-hari biasanya, dihabiskan untuk bekerja dan bekerja.

Anehnya, ketika saya bertanya apakah mereka melakukannya hanya dengan satu wanita saja, 76% menjawab ya, sedangkan 24% lainnya menjawab tidak. Wah, repot juga ya jadi istri atau pacar kalau begini hasilnya!
Di pertanyaan berikutnya, saya ingin tahu hal apa yang mendorong mereka mau melakukan hubungan seks. Jawabannya, 51% menjawab karena cinta/sayang, 32% yang berani mengaku karena nafsu, 16% yang menjawab karena suka melakukannya, dan ada 1% yang menjawab karena terpaksa. Alasan cinta atau sayang memang sudah sepatutnya begitu, dorongan nafsu juga normal karena tanpa ada nafsu, hubungan seks tidak mungkin bisa terjadi, sedangkan untuk alasan suka, seks memang nikmat tetapi bisa jadi ada masalah psikologis di sini karena maniak melakukan seks karena suka. Bagi yang menjawab terpaksa, no comment untuk yang satu ini. Kasihan banget!

Kontradiksi dengan pertanyaan sebelumnya, saya ingin tahu alasan apa yang membuat mereka tidak mood untuk berhubungan seks. 36% menjawab karena capek, 44% karena stres, 8% mengaku karena bosan dengan paangannya, dan 12% menjawab bosan dengan posisi yang itu-itu saja. Bagi saya, alasan capek dan stress adalah alasan klise, saya lebih percaya dengan mereka yang mengaku bosan dengan pasangannya atau jenuh dengan posisi yang monoton. Ada yang nggak klop di sini.

Untuk mengorek lebih dalam kejujuran mereka, saya kemudian mengajukan pertanyaan: Apakah Anda membicarakan masalah seks dengan pasangan Anda?. Ternyata benar dugaan saya, sebagian besar, yaitu 76% menjawab tidak. Hanya 34% saja yang mengaku membicarakan masalah seks dengan pasangannya. Di sini jelas sekali terlihat bahwa keterbukaan masalah seks dengan pasangan masihlah sangat memprihatinkan, padahal hal ini sangat penting untuk membina frekuensi hubungan seks agar tetap stabil dan juga menjaga keharmonisan dengan pasangan.

Selanjutnya saya bertanya apakah mereka merasa memiliki masalah seksual, sudah dapat dipastikan hanya 11% yang mengaku memiliki masalah, sedangkan sebagian besar lainnya, 89% tentu saja mengaku tidak memiliki masalah. Padahal, dengan menurunnya frekuensi hubungan seksual saja menunjukkan bahwa mereka memiliki masalah seksual.

Akhirnya saya memberikan pertanyaan jebakan: Apakah masalah seksual yang sekarang ini sedang Anda cemaskan? Jawabannya, 35% mengaku takut memiliki masalah impotensi, 34% mengaku memiliki masalah dengan ejakulasi dini, 5% bermasalah dengan penyakit, dan sisanya apalagi kalau bukan soal ukuran penis yang kurang panjang dan besar.

Jebakan pertanyaan yang satu ini menunjukkan kepada saya bahwa  jelas faktor psikologis sangat berpengaruh terhadap frekuensi hubungan seks mereka yang kebanyakan kurang dari yang dianjurkan. Apalagi setelah saya mengajukan beberapa pernyatan di mana mereka harus memilih yang paling penting bagi mereka, 29% menjawab ingin memiliki penis yang besar dan panjang, 31% ingin bisa “tahan lama”, 24% ingin bisa memuaskan pasangannya, dan 16% menjawab ingin bisa menikmatinya.

Survey ini memang kecil-kecilan tetapi saya ingin agar frekuensi hubungan seks Anda tetap terjaga. Bahwa benar frekuensi hubungan seksual di kota besar menurun. Bukan hanya gosip belaka. Bahkan di kota Bandung, tempat yang sangat nyaman untuk bersantai dan bermesraan sekalipun.
Stres bukanlah penyebab utama, tetapi faktor yang sangat berpengaruh kepada mental dan kejiwaan seseorang, sehingga pada akhirnya menyebabkan seseorang memiliki masalah seksual. Keterbatasan waktu dan keengganan untuk berkomunikasi dan membahas masalah seks dengan pasangan menambah beban. Rasa bosan dan jenuh dengan pasangan atau dengan posisi seks membuat seseorang cenderung malas untuk melakukannya. Kebanyakan memendam rasa itu sehingga semakin berlarut sehingga tidak sedikit juga yang akhirnya beralih kepada wanita lain. Apalagi hampir sebagian besar tidak mau mengakui kalau mereka memiliki masalah seksual.

Ketakutan dan kecemasan serta ketidaktahuan tentang masalah seks juga sangat berpengaruh. Biarpun terbilang memiliki pengalaman cukup, tetapi topik pria dengan ukuran penis yang panjang dan besar tidak pernah bisa terpisahkan. Padahal wanita tidak pernah terlalu mempermasalahkannya. 9 cm saat ereksi saja bisa, kok, membuat wanita puas!!! Tergantung bagaimana komprominya saja. Kalau sama-sama tahu cara memuaskan pasangan masing-masing, pasti selesai masalahnya.

Sedangkan masalah impotensi dan ejakulasi dini bisa disebabkan oleh faktor medis dan psikologis. Kebanyakan akibat kesibukan kerja yang seringkali membuat mereka mengabaikan pola hidup sehat, dan sekali lagi, begitu ada masalah timbul, bukannya langsung diobati, tetapi justru diabaikan atau tidak mau diakui sampai pada akhirnya semakin menumpuk dan akhirnya meledak. Kalau tidak merasa atau tidak mau mengakui, bagaimana mau diobati, disembukan, atau dibuat lebih baik?

Tidak sedikit juga yang mengetahuinya dan langsung mengambil jalan pintas dengan mengenggak obat kuat yang tidak jelas. Sudah banyak korban yang meninggal dan justru menjadi impoten karena obat kuat, tapi masih saja banyak yang mengkonsumsinya. Padahal hanya dengan olahraga dan diet yang benar, semua masalah ini bisa diatasi.

Saran saya, lakukanlah komunikasi yang intim dengan pasangan paling tidak 15 menit saja dalam sehari.     Bicarakan tentang Anda berdua bukan soal anak, kerjaan, uang, atau masalah lainnya. Hanya tentang Anda berdua! Jangan lupa bicarakan soal seks. Cara ini menjaga agar hubungan kalian berdua bisa tetap harmonis di mana tidak ada lagi yang dipendam, sehingga Anda berdua bisa terus dekat dan intim. Bila Anda memang melakukan hubungan seks karena sayang atau cinta pasti Anda bisa merasakan perubahan. Nafsu terhadap pasangan pun akan semakin meningkat dari hari ke hari karena rasa sayang dan cinta itu tetap terjaga.

Jangan lupa untuk olahraga paling tidak 30 menit sebanyak 3 kali seminggu untuk menjaga stamina agar tubuh Anda tetap fit. Diet yang benar dan banyak minum air putih juga sangat dianjurkan. Kemampuan fisik Anda akan terjaga sehingga kecemasan-kecemasan soal impotensi dan ejakulasi dini pun bisa dikurangi. Kemampuan untuk bisa bertahan lebih lama pun dijamin bisa tercapai. Kepuasan si Dia? Berani taruhan….?

Salam,

MARISKA LUBIS

mariskalubis@yahoo.com

Artikel ini dapat juga dibaca di Kompasiana

Tags: ,

Share on Facebook Share on Twitter

~ oleh Mariska Lubis pada September 21, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: