“Mbak, Saya Mau Bunuh Diri. Apa yang Harus Saya Lakukan?”

Mariska Lubis

MARISKA LUBIS

LHO, kok, aneh! Mau bunuh diri tapi nanya apa yang harus dilakukannya. Minum Baygon, loncat dari jembatan, potong nadi, kan, bisa.

Itu isi dari sebuah email yang masuk ke tempat saya. Datangnya dari seorang pria berusia 23 tahun, mengaku tinggal di daerah Kelapa Gading Jakarta, berinisial J.

Pasti ada yang salah dari orang ini, pikir saya. Saya pun segera membalas emailnya sembari mencantumkan alamat YM saya, dan memintanya untuk sesegera mungkin bicara dengan saya. Bukannya mau jadi malaikat penolong, bukan juga jadi setan pembantu, tapi saya ingin tahu saja apa motivasi dia menulis email tersebut.

Saya masih ingat waktu itu sekitar pukul delapan malam ketika tiba-tiba ada yang minta di-add. “Nah, ini dia!” saya pun segera meresponnya.

Benar saja, dia langsung bilang, “Mbak, ini saya, J. Yang tadi mengirim email ke tempat Mbak.”

Singkat cerita, dia ternyata sedang patah hati. Pacarnya kabur dengan pria lain. Dia tidak bisa menerimanya. Alasannya, dia merasa bahwa perempuan itu hanya “layak” menjadi istrinya, bukan dengan pria lain. Hanya dialah pria paling layak di dunia ini untuk menjadi suami perempuan itu.

Benar-benar aneh ini orang! Apa yang membuat dia bisa berpikir bahwa hanya dia yang paling layak menjadi suami seorang perempuan yang jelas-jelas meninggalkannya? Kalau memang yakin “layak”, kenapa harus dia yang bunuh diri? Apa ada orang yang dibilang layak jadi suami bila hanya gara-gara patah hati doang mau bunuh diri? Terbalik, deh, ah!

Berjam-jam kami chat. Sampai jam empat pagi! Dari yang awalnya keukeuh sumeukeuh (keras hati) mau bunuh diri, sampai akhirnya dia bilang sendiri, “Rugi amat perempuan itu, ya, tidak memiliki saya sebagai suami. Belum tentu pria itu bisa memberikan yang lebih baik dari saya.”

Lega hati saya karena pada akhirnya dia sadar bahwa bunuh diri bukanlah solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah, walaupun dari awal saya sudah yakin bahwa orang ini hanya gertak sambel doang alias cuma asal ngomong, tidak benar-benar niat bunuh diri. Mana ada, sih, orang mau bunuh diri bilang ke sana ke mari. Pakai tanya pula apa yang harus dilakukannya. Dia hanya butuh teman untuk curhat saja. Mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hati dan pikirannya.

Selesai.

Dua minggu kemudian, muncullah si J ini lagi saat saya sedang on-line. Saya pun segera meresponnya kembali. Tadinya saya pikir dia hanya sekedar ingin say hello atau paling tidak curhat lagi, tetapi ternyata dia langsung bilang, “Mbak, saya mau potong penis saya ini. Pisau sudah di tangan saya. Apa saya bisa mati kalau penis saya dipotong?”.

Gila, nih, orang! Benar-benar gila!

“Kalau kamu mau potong, potong saja! Mati, sih, nggak! Tapi kamu bakal menyesal seumur hidup”
“Saya tidak akan pernah menyesal, Mbak! Barang saya ini hanya untuk dia! Hanya dia yang berhak menikmatinya. Sekarang dia sudah tidak ada lagi. Buat apa saya menyimpannya???”
“Silahkan! Itu haknya kamu, kok, untuk menentukan siapa yang boleh menikmati, siapa yang tidak. Barang-barang kamu! Tapi apa kamu juga tidak mau menikmatinya?”
“Maksud, mbak?”

Saya pun kemudian menceritakan apa yang bisa dinikmati dari “barang”-nya itu. Dinikmati dia, maksudnya!

Ahirnya, dia pun mengalah dan berjanji untuk berpikir ulang atas pemikiran dia sebelumnya. Saya juga meminta dia untuk segera menemui seorang psikolog, yang kebetulan tante saya sendiri, agar bisa mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Dia pun setuju.

Itu adalah chat saya dan dia yang terakhir kalinya. Tidak ada juga email yang dikirimnya lagi. Saya tanya tante apakah J sudah datang atau belum, tetapi tante saya bilang tidak pernah. Pernah saya coba mengirimkan email, tapi dia tidak pernah membalas juga. Saya tidak tahu bagimana kemudian dia.

Yang tidak saya habis pikir adalah kenapa orang ini meminta bantuan bila dia tidak mau dibantu. Hanya orang sakit jiwa saja yang bisa berbuat demikian. Manusia normal seharusnya dengan senang hati dibantu. Manusia normal juga yang selalu berkeinginan untuk bisa memperbaiki diri dan menjadi lebih baik. Toh, demi kebaikan dirinya sendiri. Bukan untuk saya ataupun untuk orang lain.

Mudah-mudahan saya tidak harus berhubungan dengan orang seperti itu lagi. Jujur saja, takut!!! (asa)

Salam Kompasiana,

MARISKA LUBIS

Tulisan ini juga dapat dibaca di Kompasiana

Share on Facebook Share on Twitter

~ oleh Mariska Lubis pada September 24, 2009.

Satu Tanggapan to ““Mbak, Saya Mau Bunuh Diri. Apa yang Harus Saya Lakukan?””

  1. Wah..rugi bgt tuh orang, dunia tdk selebar daun kelor, msh banyak wanita lain di luar sana yg jauh lebih baik drpd mantan pacarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: