Kepedulian Semu Mereka yang Mengaku Sebagai Saudara

Mariska Lubis

MARISKA LUBIS

JUJUR saja, berapa banyak di antara kita yang lebih senang bercerita alias curhat dengan teman dibandingkan dengan keluarga sendiri. Berapa banyak juga yang merasa lebih banyak dibantu teman dibandingkan dengan keluarga sendiri. Berapa banyak yang merasa disisihkan oleh keluarga. Saya yakin pasti banyak sekali!

Masih ingat film serial teve “The Brady Bunch” atau “The Huxtable”? Ada nggak, sih, sedikit perasaan iri atau paling tidak keinginan yang sangat mendalam untuk bisa memiliki keluarga seperti itu? Akrab, saling membantu, saling berbagi, dan yang paling penting adalah memiliki ketulusan dan keikhlasan dalam saling menyayangi antara ayah, ibu, anak, dan saudara. Sungguh indah dan luar biasa. Seandainya saja semua keluarga bisa menjadi seperti itu….

“Kalau kita lagi di atas, semua juga datang. Saudara dari ujung antah berantah pun datang dan mengaku saudara. Coba kalau kita lagi susah kayak begini! Orang tua, kakak, dan adik juga kalau bisa nggak deket-deket, deh! Baru bilang mau datang saja sudah ketakutan dipinjami duit! Apalagi kalau beneran datang ke rumahnya?” keluh Awang yang baru saja usahanya bangkrut dan habis-habisan karena tertipu. “Mana ada, sih, yang ingat kalau mereka juga pernah kita bantu? Bukannya nggak ikhlas, tapi rasanya jengkel aja!”

“Kalau memang saya bisa, sih, saya juga pengennya pindah ke rumah sendiri. Mau ngontrak, kek, mau di kampung, kek, mau di gang senggol, kek, saya nggak peduli. Tapi kondisinya bagaimana? Kasihan anak-anak. Uang buat sehari-hari saja nggak cukup, bagaimana saya mau pindah?” curhat Linda yang baru saja kehilangan mata pencaharian alias dipecat dan sekarang ini numpang tinggal di rumah orang tuanya. Begitu juga dengan suaminya yang sekarang ini sama-sama pengangguran. “Malu sebetulnya sama keluarga. Nggak tahan dengan sikap menghina dan sindiran mereka. Sebagai kakak paling tua, rasanya, kok, saya cuma sekedar kakak. Nggak ada yang namanya rasa hormat sama sekali!”

“Saya memang bukan anak yang patut dibanggakan keluarga. Hidup saya habiskan untuk hal-hal percuma. Mana rumah tangga saya berantakan lagi! Keluarga pun sudah malu menerima saya, biarpun sekarang ini saya sudah tobat dan mencoba untuk bisa terus jalan yang lurus. Jadi orang luruslah, istilahnya,” cerita Danang yang pernah masuk penjara dan panti rehabilitasi ketergantungan narkoba. “Saya bisa mengerti, tetapi biar bagaimanapun juga, saya, kan, tetap anak. Saya tetap adik dari abang-abang saya. Apa memang sebegitu hinanya saya, sampai-sampai lebih baik mereka pelihara anjing dan ayam dibandingkan menerima saya masuk ke dalam rumah mereka?”

“Paling terasa kalau ada acara keluarga. Anak saya, kan, banyak, sementara saya nggak punya kendaraan sama sekali. Mau pergi naik angkutan umum jauh. Tidak mungkin saya membawa anak-anak itu jalan kaki sebegitu jauhnya. Tapi kalau saya nggak datang, nggak enak juga. Dibilangnya macam-macam. Kalau punya duit buat naik taksi, sih, nggak masalah. Ini minta tolong dijemput sama adik sendiri saja, kok, kayak orang ogah-ogahan gitu? Suka nggak enak hati, jadinya!” kata Melani yang “baru” tiga tahun belakangan ini terpaksa harus hidup amat sangat sederhana dan harus membesarkan tiga orang anaknya sendirian. “Saya, sih, lebih sering memilih untuk diomongin macam-macam daripada dianggap ngerepotin!”

“Sedih banget kalau ibu menyuruh saya dan suami untuk makan makanan ala kadarnya yang tersedia di lemari. Tak jarang itu adalah makanan sisa kemarin. Sementara yang lainnya boleh makan makanan lain yang enak. Diumpetin! Biar saya kagak ngambil! Padahal kalau tahu pun saya nggak akan ambil kalau memang tidak ditawari. Memang bukan punya saya, bagaimana?” cerita Tiur yang juga terpaksa harus kembali ke rumah orang tua setelah bangkrut habis-habisan. “Saya sebetulnya bersyukur dengan apa yang saya terima. Masih untung bisa makan, kasarnya, kan, begitu! Yang penting anak-anak sajalah! Saya, sih, nggak terlalu mikirin! Cuma kalau sedih, boleh, kan?!”

Berbagai kisah dan cerita yang berbeda namun ada satu omongan yang sama, “Memangnya kita mau hidup susah kayak begini?! Kita bukannya nggak usaha! Kita juga sampai pusing dan stres memikirkan bagaimana caranya untuk bisa memperbaiki hidup. Semua usaha sudah kita lakukan dan nggak pernah berhenti untuk terus berusaha. Mbok, ya, ngerti sedikit kenapa? Menolong orang lain bisa, tapi kenapa kalau nolong saudara sendiri, kok, susahnya minta ampun. Kayak orang nggak ikhlas saja!”

Menangis saya saat menuliskan cerita ini. Di mana hati nurani, ya? Menolong dan membantu saja harus sok pakai nalar segala! Memang susah banget, ya, kalau pakai hati? Ini barangkali yang dibilang susahnya jadi orang susah. (asa)

Salam,

MARISKA LUBIS

Tulisan ini juga dapat dibaca di Kompasiana

Share on Facebook Share on Twitter

~ oleh Mariska Lubis pada September 24, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: