“Pacar Saya Bule, Dong…!!!”

Mariska Lubis

MARISKA LUBIS

MATANYA biru. Rambutnya pirang. Duitnya banyak. Ooohh, pantesan kamu juga pakai soft lense biru, rambutnya dicat pirang, dan bajunya minim habis, ya!

Mereka mungkin sealiran dengan salah satu mantan pemimpin bangsa kita. (Nggak usah disebut, sudah tahu sendiri orangnya, kan?) Biar punya anak indo, biar bisa jadi pemain sinetron. Benar juga, sih! Banyak pemain sinetron kita tampangnya kelihatan banget ada turunan asingnya. Yah… wajar kalau kemudian banyak warga asing yang “ngelunjak” alias merasa di atas angin. Panutannya juga begitu, sih!

Begitu lulus kuliah dan pulang ke tanah air, saya langsung bekerja sebagai asisten manager di sebuah perusahaan telekomunikasi asing yang namanya cukup beken. Lumayanlah, daripada nganggur! Sekalian buat cari pengalaman juga.

Baru dua hari bekerja, saya dipanggil oleh salah satu GM yang kebetulan seorang warga negara asing. Entah kesambet setan apa tiba-tiba saja dia bilang, “Mariska, we are in Indonesia, but this is a foreign company and you are Indonesian.”

WHAAAATTTT????!?!!! @*$#&%&#$_*&_*%&(&((*$#@$()_* (Kalau di Komik Tin Tin artinya sejuta topan badai, angin puting beliung, dan seterusnya… dan seterusnya…) Brengsek, nih, orang! Apa maksudnya??

Dua kalimat terakhir yang saya ucapkan kepada orang itu, “Go to hell!! Get the hell out of my country!!!”

Saya benar-benar tidak terima ucapannya. Saya benar-benar naik pitam. Saya kemudian melaporkannya ke salah satu orang petinggi yang saya kenal di Departemen Luar Negeri, dan tidak lama kemudian orang itu pun mendapat surat untuk tidak diperkenankan lagi berada, bekerja, dan tinggal di Indonesia. Mampus!!! Memangnya dia pikir dia siapa? Cow boy? Jagoan?! Tahu rasa! Balik kampung sono! Rasain jadi kere lagi!!!

Tidak semua orang asing yang bodoh dan picik seperti itu juga. Bos saya yang sama-sama ekspatriot pun marah waktu saya ceritakan apa yang terjadi. Komputernya sampai dibanting segala. Teman baik saya waktu itu juga, warga negara asing juga, marah berat dan sangat menyetujui sikap yang saya ambil. Dia malah mau ikut-ikutan menampar orang itu.

Setelah kemudian saya bekerja beberapa lama di sana, saya pun jadi mengerti mengapa orang gila satu itu bisa bersikap demikian. Ternyata salah orang kita sendiri juga. Orang asing dianggap lebih hebat. Lebih pintar. Lebih kaya. Kalau melihat mereka sudah kayak melihat dewa turun dari surga saja. Karena sekolah di luar negeri atau karena sudah pernah naik pesawat terbang ke luar negeri, kali, ya? Kacau!

Perempuan-perempuan yang bekerja di sana, lebih parah lagi! Tak sedikit di antara mereka yang memang sepertinya “menyodorkan” diri dan atau terobsesi bisa mendapatkan pacar dan suami orang bule. Sudah kayak dapetin apa gitu! Wah, norak dan memalukan banget, deh! Padahal kalau saya bercanda dengan teman-teman, kita merasa beruntung banget nggak ditaksir bule! Maaf nih… habis kebanyakan bule nggak punya selera juga sih! Asal pakai rok mini, tank top, nggak pake bra, sepatu hak tinggi, dan dandanan menor, pasti “diembat”. Apalagi yang “mainnya” jago dan goyangannya heboh, pasti laku keras! Nggak percaya? Datang saja ke tempat-tempat dugem di Jakarta? Biarpun ada, tapi jarang, tuh, ada yang cantik, pintar, dan “berkelas”. Hehehe… sekali lagi maaf ya… tapi begitulah memang faktanya, kan?

Sedih rasanya melihat kenyataan pahit seperti ini. Kenapa, sih, kita, kok, mau-maunya diperlakukan seperti itu? Kok, bisa-bisanya juga kita merasa sebegitu rendahnya? Apa nggak malu? Bangga, sih, sama orang asing, Bangga sama diri sendiri dan negara sendiri ‘napa? Belum tahu, sih, bagaimana kita yang sebenarnya dan bagaimana juga mereka yang sebenarnya!!!

Menurut saya, ini semua akibat kurangnya pengetahuan dan pendidikan mengenai budaya, sosial, dan sejarah, sehingga rasa memiliki, rasa cinta, dan rasa bangga terhadap tanah air sangatlah kurang. Minus malah! Sekarang, apakah kita akan membiarkannya terus berlanjut? Apa jadinya negara kita nanti?

Sudah, ah! Malu nih! Belajar, ‘gih! Seperti apa kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Bila kita tidak mengenal bangsa dan negara kita sendiri, mana mungkin kita bisa sayang.(ASA)

Salam Kompasiana,

MARISKA LUBIS

Tulisan ini juga dapat dibaca di Kompasiana

Share on Facebook Share on Twitter

~ oleh Mariska Lubis pada September 26, 2009.

38 Tanggapan to ““Pacar Saya Bule, Dong…!!!””

  1. mungkin mereka kepengin ngerasain Mr. P yg guede banget, padahal gak semua bule jg gitu, anyir lg, he..he..

    salam

  2. Setuju 100%.
    Mari para pria Indonesia, kita tunjukan kualitas pria sejati yang JAUH lebih tinggi daripada orang2 Caucasian tersebut.

  3. Phuuiiifff padahal orang kita juga sama pinternya tuh. Heran kok pada bangga ya sama co bule? weks….

  4. Bule atau bukan, co senengnya ce telanjang. Co bule yg seneng atau ingin hidup dg ce asia, justru nggak suka ce asia bercat pirang dan bermata l
    warna palsu!!! Ce yg mewarnai rambut dan bola mata itu ce yg justru tidak ingin bule atau guoblok! Anda termasuk guoblok krn memberi image buruk tentang keluarga mix, pada warga kita! Anda punya masalah dg satu bule dan dibela oleh 10 bule (berarti ada 1 yg buruk dari 11), anda ratakan semua bule dg yg satu itu!!! Semua co yg ingin main2, nyarinya tentunya, ce yg bisa jual tubuh mereka! Indonesia atau bule!!!

  5. Perluas cara pandang dan hidup anda, neng!!! Agar idemu bisa lebih menarik !!! Kalau hanya ahli salam bidang sex jangan coba bula topik so’al lain! Keliatan norak dan kurang gaul!!!

    • hehehe… terima kasih atas masukkannya… saya bisa mengerti kalau Anda marah… tapi mohon maaf… boleh dong, saya menulis apa yang saya suka… lagipula memang begitulah fakta di lapangan… di mana orang kita lebih suka menyangjung orang bule dibandingkan dengan bangga atas diri kita sendiri… sebagai bangsa Indonesia…

      Coba baca lebih luas lagi apa yang saya tulis dengan pemikiran dan hati yang lebih terbuka dan cara pandang yang lebih luas lagi… sehingga Anda bisa menangkap inti sari dari tulisan saya…

      Anyway, terima kasih atas omelannya…

  6. Setuju sekali dengan komentarnya. Banyak sekali orang yang punya pikiran bahwa bule pinter2 dan hebat2 semua, padahal sama aja. Ada yang pinter, ada yang enggak. Mungkin udah saatnya para orang tua juga nggak mendewakan bule karena kadang2 generasi yang lebih tua cenderung menganggap yang berbau asing itu hebat.
    Salah satu “image” yang paling saya ingat adalah bule nggak pernah nyontek. Begitu saya kuliah di US ternyata sama aja, Cuma mereka kebanyakan nyontek dengan sesame bule jadi kita nggak tau. Malah yang pinter2 justru kebanyakan orang Asia seperti kita. Dalam hal pekerjaan pun begitu: Cuma banyak sekali kejadian dimana ada glass-ceiling bagi orang2 yang bukan bule untuk naik ke posisi yang tinggi (Mbak dan pembaca lain yang paham office politics pasti tahu lah, kalo mau jegal karir orang, segala alasan bisa digunakan supaya orang tsb nggak di-promote atau “dikecilkan” kontribusinya).
    Saya ngerti maksud Mbak Mariska bukan soal kawin dengan bule atau enggak, tapi masalahnya: begitu banyak orang yang mendewa-dewakan bule.
    Kalo menurut saya, nggak usah kita ngomong dari cinta tanah air dan bangsa dulu: mulai aja dari no.1: kita harus punya harga diri dan rasa percaya diri sebagai individu (dua-duanya harus bareng – kalo nggak ntar jadi konyol: nggak tau apa2 tapi sok pede),. Jangan sampe kita jadi individu yang bisanya cuma nunduk2 doang, dibodohin terus atau ngak punya pendirian. Kuncinya tentu saja kembali lagi: kalo mo punya harga diri dan rasa percaya diri harus belajar punya pengetahuan, ketrampilan dan pendidikan.
    Salam

    • Wah… senang kalau ada yang mengerti maksud dan inti sari dari tulisan saya… memang benar dan saya setuju sekali dengan pendapat Anda… bila kita ingin dihargai… hargailah diri kita sendiri dulu… teruslah mengisi hidup ini dengan sesuatu yang bemanfaat dan berisi…

  7. Wah, topik favorit nih.

    Pertama, salut untuk reaksi anda terhadap si GM bule picik itu. He/ she deserved that!

    Saya juga paling bingung, kenapa ya orang Indonesia sangat mendewakan bule. Dan ini bukan cuma di level cewe2 yang doyan cowo bule (untuk alasan apapun). Kalo kita liat mereka2 yang ber-titel pejabat/ petinggi pun, keliatan banget kalau ketemu rekan bisnis bule pun tingkah lakunya akan mendadak jadi beda (senyum2, sok ramah, carmuk, dll).

    Saya pernah punya pengalaman menyebalkan diundang satu perusahaan lokal untuk meninjau proyek mereka bersama2 dengan penyandang dana lainnya (dari dalam dan luar negeri). Dalam menempuh perjalanan ke proyek ini, kita2 yang orang Indonesia dinaikkan bis, sedangkan mereka yang bule naik helikopter. Pada saat makan malam pun, meja kami dipisahkan: yang bule ditempatkan di dekat bos-bos perusahaan tsb. Padahal, perusahaan tempat saya kerja adalah juga perusahaan asing, yang bahkan lebih besar dari perusahaan bule2 tadi, dan level saya pun sama dengan mereka.

    Ini terjadi di jaman sekarang loh, bukan di jaman penjajahan. Dan tidak ada paksaan untuk perusahaan tersebut untuk memberikan keistimewaan untuk para bule tsb. Pertanyaannya… apakah ini warisan dari jaman penjajahan dulu, dimana para bule dianggap sebagai ‘tuan’? Atau justru, dulu kita dijajah karena dari awal memang kita sudah bermental siap dijajah (melihat para bule ini sebagai orang yang berkedudukan lebih tinggi dari kita)?

    Menurut saya, mungkin kebanyakan dari kita kurang wawasan, dan silau melihat mereka2 yang bule. Padahal, mungkin yang sudah sekolah di luar, atau banyak kerja bareng bule, lama2 tau bahwa bule itu sama aja: ada yang pinter, ada yang bloon (bahkan kalau bloon ada yang ngga ketolongan), ada yang baik, banyak juga yang ngga baik.

    Sayangnya, dengan kesilauan itu, yang bisa kita ambil cuma luarnya aja -contoh: pulang dari luar negeri yang diomongin di sana banyak mobil bagus lah, banyak tas bagus, restoran enak, dll. Kenapa ngga yang lebih dilihat itu adalah misalnya, gimana kok jalanan di sana bisa tertib, gimana orang disiplin kerja selama jam kerja, gimana orang niat belajar supaya pinter (dan bukan nyogok utk dapet jabatan).

    So, kayaknya semua kembali ke diri kita masing2. Dan kalau kembali ke urusan sex, I take pride in saying that: size is not everything (udah terbukti kok, hehe..).

  8. Mbak… persis seperti yang mau tak ungkapin. Rada gak pas aja, kalau ada cewek yang kalau dapat gandengan bule terus ngerasa berjalan di awan. Heran aku, darimana dia bisa tiba-tiba punya booster seperti itu..🙂

    Kenapa kalau berhadapan dengan mereka kok kayak jadi bermental inlander gitu…🙂

  9. […] “Pacar Saya Bule, Dong…!!!” […]

  10. Kejadian serupa sama sohib saya sendiri…,
    selera belanja, makan, penampilan, dll langsung berubah ketika menyandang nyonya meneer😀

  11. semoga gak telat balasnya ya.. saya WNI keturunan, wajah cina, tapi hati indonesia, dari bapak saya diajar memiliki nasionalis tinggi, menghormati tiap manusia bukan dari ras, budaya & agama, melainkan karena mereka adalah manusia ciptaan Tuhan. Tapi mbak, saya menikah dengan bule, hidup di negri bule, makan masakan bule, bicara bahasa bule dan semua itu tidak melunturkan kebanggaan saya sebagai orang Indonesia… Kami menikah atas dasar cinta, bukan atas dasar mencari kepuasan materi & nafsu, apalagi saya seorang yang taat beragama. Buat saya, semua manusia adalah sama, bule, hitam, merah, kuning, adalah ciptaan manusia, yang tidak perlu kita agung2kan selayaknya mengagungkan Tuhan Sang Pencipta

  12. Bule? ah yang lokal nggak kalah dahsyatnya kok! Malah Lebih dahsyat lagi… Cintailah Ploduk-Ploduk dalam negeri!

  13. Bule? ah yang lokal juga dahsyat kok! malah lebih dahsyat dari yang luar. pokoke cintailah ploduk-ploduk dalam negeri! oke mariska! love you.

  14. yups apalagi zaman sekarang byk ibu2 yg brmimpi jd TKW di luar negeri…udah mendingan ke luar negeri jadi pengusaha…
    tapi kalau ujung-ujungnya jadi pembantu rumah tangga,bisa bikin kepala ornag luar negeri itu semakin besar dan semakin menjajah harga diri indonesia…
    di dalam negeri aja masih banyak loker…knp harus harus ke luar negeri dengan di jajah diri sebagai pembantu

  15. Dear Mbak Mariska,sungguh saya sangat mengagumi2 tulisan2 anda di di blog ini maupun di Kompasiana.Tapi mengenai topik yang satu ini,mungkin sedikit menyentil perasaan saya,krn saya menikah dg bule.Mudah sekali memang untuk mengatakan/menuding sesuatu ketika kita tidak dlm situasi tsb.Dulu juga saya selalu berpikir bahwa yg pacaran dg bule pasti perempuan nggak benar.Bahkan waktu awal pacaran dg suami,waktu saya tanya sahabat saya apa pendapat dia mengenai cewek yg pacaran dg bule eh..dia jawab “Itu udah pasti perek!” bayangkan mbak,sahabat sendiri bilang gitu,hampir nangis saya di Food Court Mall yg dipenuhi orang2 yg lagi makan.
    Kalo nasib membawa kami menikah dg bule,bukan krn bule lbh hebat Mr P-nya atau lbh kaya atau lbh lainnya,tapi memang krn dasar cinta dan jodoh.Memang tdk sedikit juga perempuan yg nggak benar sblmnya,tp sekali lagi sungguh tdk sedikit yg banar “berkelas”.
    Terus terang saya cinta produk dlm negeri dan dlm mimpi remaja saya selalu nanti akan menikah dg orang Indonesia dan blm pernah punya pacar bule selain dg suami saya.jadi bukan berarti semua yg menikah dg bule krn nggak cinta produk dlm negeri.Hanya sekali lagi nasib dan jodoh dan cinta membawa saya dan banyak teman2 lainnya menikah dg bule.
    Bule atau tidak dlm pergaulan sebaiknya kita ambil yg baik,yg buruk kita tinggalkan..betul nggak Mbak..pokoknya dlm bergaul..kita belajar sesuatu..mereka juga belajar sesuatu dari kita sbg orang Indonesia yg ramah tapi nggak goblok..yg rajin senyum tapi bukan krn nggak tau pas ditanya trus jadi jualan senyum dan yg lembut bukan lembek.
    Kalo ternyata Mbak Mariska dpt Bos bule yg kampret kaya gitu tidak sedikit juga bos Indo yg kampret juga😉
    Buat bapak2 pejabat..tolong..belajar bhs Inggris..jadi kalo ada kunjungan bule nggak keliatan menunduk..takut…aplg menyembah..supaya bulenya cepat2 pergi hanya gara2 beliau2 ternyata nggak bisa bhs Inggris🙂

    Thanks yah Mbak..maaf kalo kepanjangan.Tetaplah menulis dg hati…!

    • terima kasih untuk masukkannya… sebaiknya orang asing yang datang ke Indonesia pun belajar bahasa Indonesia… karena bahasa Indonesia adalah bahasa yangindah dan sangat luar biasa artinya bagi bahasa Indonesia…

      salam hangat selalu…

  16. Gue setuju sekali nih sama pendapatnya Mariska. Ini pengalaman pribadi yah.. Rata-rata cewek Indonesia yang educated, moral dan agamanya bagus, cantik dan desirable, biasanya ogah cari pasangan bule (dan bule juga ogah mendekati mereka). Cewek-cewek Indonesia high quality biasanya sangat secure about themselves dan cenderung jual mahal sama cowok asing/bule. Mereka cenderung cari cowok Indonesia yang high quality juga.. coba aja liat sekeliling wanita Indonesia yang jadi executive, profesor, ilmuwan, menteri etc mana ada yang punya pasangan bule ??

    Kebanyakan yang mimpi berpasangan sama bule itu yang memang di Indonesia tidak laku, entah karena faktor usia, fisik atau kepribadiannya yang kurang cocok di kultur Indonesia.

    Kalau cowok bule sih tidak punya standard apapun dalam mencari pasangan, yang penting exotic, penurut dan mendewakan mereka. Bagi mereka faktor pendidikan, moral, kecerdasan dan budaya tidak penting. Sebagian kecil cowok bule high quality yang picky biasanya cenderung mencari cewek bule high quality juga.

  17. mbak mariska, salam kenal- saya suka dengan tulisan-tulisan mbak yang begitu tajam dan membahas ttg realita sosial yang ada. Saya punya pengalaman yang sama, ttg cowok bule, tidak semua brengsek. Tapi benar, mayoritas perempuan kita dengan mudah dipermainkan. Semua itu, lantaran kita merasa bangsa luar ‘lebih’ dari pada bangsa sendiri….

  18. kebetulan temen2ku di Jogja banyak bule tapi mereka orang terpelajar and baru ambil Phd untuk masalah budaya…ada 1 pertanyaan dari sahabat saya Anja dr german dia tanya kenapa banyak cowo bule yg di jerman sana engga laku dan ga bakalan deh dapet cewe cantik disana, tp tahu tahu pulang ke jerman bawa cewe cantik dari Indo atau asialah…kenapa?..aku cuman jawab hehehehehehe…..kebetulan pas di mall kita beneran ketemu sama yang kayak gitu..asli malu maluin deh mba.Tahu dululah bule nya kayak apa..maen sambet aja. lam kenal mba mariska.

  19. Dengan tulisan ini, akhirnya saya memahami mengapa para artis Indonesia berlomba2 memburu bule….. saya kira pola pikir para artis yang keliru tentang naiknya strata sosial bila menikah dengan bule juga bersentuhan dengan paradigma yang keliru selama ini oleh kita seluruh anak bangsa ini bahwa budaya Barat (termasuk di dalamnya ekonomi, pendidikan dan kesehatan)dari dulu selalu jauh di atas kita. Makanya, saya kira, pendidikan kurikulum kita tidak hanya menekankan nasionalisme yang lebih mengarah pada patriotisme masa lalu (perang dan pertikaian baru merasa menjadi satu bangsa) tetapi juga kesadaran baru akan pentingnya merasa bangga, menjaga dan melestarikan nilai2 budaya dan sebagainya. Pada sisi lain, hal ini juga menjadi tanggung jawab pemerintah untuk berpacu maju memperhatikan ekonomi, pendidikan dan kesehatan agar bisa dapat dikatakan layak seperti di negaranya para bule…sebab suka tidak suka, setuju tidak setuju, parameter cinta dan seksualitas gadis Indonesia yang mengejar2 bule ini juga seyogyanya bersentuhan dengan persoalan2 di atas………..SALAM DARI NEGERI CENDERAWASIH, SELAMAT MENULIS LAGI!!!

    • kita harus bangga pada dirikita sendiri dan menaruh hormat pada diri kita karenaitulah yang menjadikan kita terhormat…

      salam hangat selalu dan terima kasih untuk motivasinya…

  20. saya jadi ingat waktu malam tahun baru 2010 kemarin, ketika ada seorang bule bertanya pd saya, dgn santai saya jawab dengan bahasa Indonesia, orang bule tsb lsg minta maaf sambil menyampaikan apa yg ingin disampaikan dlm bahasa Indonesia yg minim kosa kata yg dimilikinya…hehehehe

    mau ke Indonesia, anda harus belajar bahasa Indonesia mr Bule🙂

    salam kenal ito🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: