“Anak Saya Suka Masturbasi, Nih?! Gimana, Dong???”

Mariska Lubis

MARISKA LUBIS

SEORANG teman tergopoh-gopoh membawa anaknya yang paling besar, umur 18 tahun, datang ke rumah saya.

“Gini, lho, Ka! Dia itu suka masturbasi! Dua hari yang lalu saya melihatnya sendiri! Ampun, deh! Makanya saya seret dia ke sini. Biar dia tahu! Itu, kan dosa!”

Huahahahhahaha…. saya tertawa dalam hati membayangkan wajah pria itu saat ke-gap. Wajah ibunya itu pun pasti tidak kalah kacau balaunya. Terbayang wajah paniknya! Hehehe… Kasihan, tapi! Ini adalah salah satu bukti kurangnya pengetahuan sang ibu soal pendidikan seks untuk anak.

Saya kemudian mengajak anak itu bicara. Ibunya tentu saja saya persilahkan menunggu di ruangan lain. Wajahnya merah dan tertunduk malu.

“Malu, ya?!”
“Iya, M!”
Dia memanggil saya M juga, karena dari kecil sudah sering bermain dengan saya.
“Mama gimana, sih?! Sebel!!!”
“Sudahlah, dia, kan maksudnya baik. Jangan marah, ya!”
“Ngapain coba dia harus bawa saya ke sini segala! Memangnya nggak bisa apa papa yang ngomong aja!”
“Papa kamu, kan, sibuk, sayang! Dia kapan coba pulang? Masih semingguan lagi, kan?”
“Memangnya nggak bisa telpon?”
“Iya juga, sih, tapi sekarang kamu sudah di sini. Apa salahnya kita bicara dulu? Nanti papa kamu juga akan bicara kalau dia sudah pulang.”

Saya bisa merasakan apa yang ada di dalam pikirannya. Sedih. Malu. Kesal. Jengkel. Gado-gado berontak, kalau istilah saya.

Saya mengatakan padanya bahwa saya tidak menyalahkan dia untuk marah ataupun untuk melakukan masturbasi. Adalah perbuatan yang sangat wajar bila itu dilakukan oleh pria, terutama yang masih dalam usia “eksplorasi” seperti dia. Malah justru aneh kalau dia tidak pernah melakukannya??? Pasti ada kelainan!!!

Saya hanya menyarankan bahwa sebaiknya dia tidak terlalu sering melakukannya saja karena pengaruhnya bisa cukup besar bagi kesehatan dan perkembangan psikologisnya. Saya juga menceritakan bahwa ada kemungkinan penis menjadi luka, sakit, dan lecet karena terlalu sering masturbasi. Selain itu, bila sudah lebih dewasa nanti dan menikah, bisa mengakibatkan dia menderita yang namanya Premature Ejaculation alias ejakulasi dini, di mana penis menjadi amat sangat dan terlalu sensitif bila menyenggol ataupun masuk ke tempat yang seharusnya karena sudah terbiasa dengan tangan.

“Kalau kamu tidak percaya, silahkan hitung dengan stopwatch berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk mencapai orgasme setiap kali kamu melakukan masturbasi. Pasti semakin lama akan semakin lama juga waktunya.”

Iseng banget kali, ya, ngukur waktu segala! Hehehe… Tapi ya, walaupun itu benar, saya, kan, harus memberinya sedikit tantangan juga! Biar dia tahu kalau itu benar!

Saya bilang juga kalau masturbasi itu sama dengan membohongi diri sendiri, karena orgasmenya palsu! Bukan beneran! Otak dibohongi sama kamu sendiri! Kalau keseringan dibohongi akhirnya gimana? Otak pasti akan berontak juga, kan? Makanya nggak sedikit yang akhirnya jadi ketagihan dan menjadi “obses” ingin melakukannya terus menerus. Otak dan kepalanya hanya dipenuhi dengan keinganan untuk melakukan seks… seks… dan seks. Tidak bisa lagi konsentrasi melakukan pekerjaan yang lain. Sekolah kacau, kerja berantakan. Pacar pun malas dekat-dekat pria berotak ngeres. Belum lagi rasa bersalah yang selalu menghantui setiap kali habis melakukannya. Kalau pas melakukannya, sih, mana ingat?! Asyik-asyik saja! Hal ini bisa membuat seseorang menjadi punya perasaan minder dan takut serta rasa kesepian yang sangat mendalam. “Apa kamu mau jadi orang seperti itu?”.

“Kalau mimpi basah, M?”
“Itu, sih, biarin saja! Normal dan wajar! Mendingan kamu nunggu mimpi basah saja yang lebih alami.”
“Tapi, kan, rasanya beda, M?”
“Tapi, kan, fungsinya sama. Sama-sama buat ngebersihan pipanya kamu?”
“Pipa? Memangnya di penis ada pipa?”
“Kalau nggak ada pipa, darimana sperma dan penis kamu keluar?”

Ampun, deh! Jengkel rasanya! Bukan sama itu anak, tapi sama orang tuanya. Gimana, sih???

Saya juga menyarankan dia untuk menghentikan kebiasaan menonton film porno, baca majalah dewasa, ataupun browsing dan lihat-lihat gambar seperti itu di internet. Biar otaknya nggak kecuci sama yang begitu-begitu itu! Lebih baik energinya dipergunakan untuk aktivitas lain yang lebih berguna dan bermanfaat.

“Kok, M tahu?”
“Ya, iyalah! Apalagi, sih, yang kamu lakukan kalau sedang di kamar sendirian! Biarpun dilarang juga, pasti ngumpet-ngumpet! Ngaku, deh!”
“Hahaha… iya, M!”

Baguslah dia bisa mengerti, setelah itu tinggal saya bicara dengan ibunya, yang pastinya lebih panjang dan lebih ruwet lagi. Saya juga mencoba bicara dengan bapaknya supaya bicara “Man to Man” dengan anaknya. Soalnya sama-sama punya penis, kan? Sama-sama pernah bermain denga penis juga, kan? Hehehe…

Semoga bermanfaat, ya!  (ASA)

Salam Kompasiana,

MARISKA LUBIS

Baca juga di Kompasiana

<!–This entry was posted on Wednesday, September 30th, 2009 at 8:35 am and is filed under Budaya, Gayahidup, Kesehatan, Lingkungan, Muda, Pendidikan, Pusparagam, Sosial. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site. –>

//

Share on Facebook Share on Twitter

~ oleh Mariska Lubis pada September 29, 2009.

5 Tanggapan to ““Anak Saya Suka Masturbasi, Nih?! Gimana, Dong???””

  1. Saya Bagus (22, single), dari umur 17 suka masturbasi sampai sekarang!!! Sampai ingin berencana mencoba berhubungan seks dengan pelacur (alhamdulillah belum). Terima kasih atas tulisannya Mb… “hidup bukan hanya untuk seks”. Terima Kasih.

  2. salam kenal mba..🙂

  3. terima kasih dah mampir…

  4. […] “Anak Saya Suka Masturbasi, Nih?! Gimana […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: