“Ibu! Apa Salah Saya, Bu?”

Mariska Lubis

MARISKA LUBIS

TERIAK seorang bayi yang baru saja digugurkan dari dalam kandungan ibunya.

“Apakah engkau tidak sayang? Apakah engkau tidak ingin melihat saya? Apakah engkau tidak ingin menimang dan meninabobokan saya? Apa engkau tidak ingin, Bu?”

Teriakan itu selalu terdengar dengan sangat kerasnya di telinga saya setiap kali mendengar ada seorang ibu yang mengugurkan kandungannya. Begitu juga setiap kali ada yang membuang dan menelantarkan anaknya begitu saja di tempat sampah ataupun di tempat-tempat yang tidak pantas lainnya.

“Mengapa engkau tidak memberikan saya kesempatan untuk menikmati rasanya air susumu, ibu? Apakah saya tidak boleh merasakan pelukan dan belaian kasih sayangmu, Bu? Mengapa engkau meninggakah saya, Bu? Apa salah saya? Ibuuuuu……!!!”

Pedih rasanya hati ini. Serasa ditusuk-tusuk jutaan jarum yang menghujam bertubi-tubi. Air mata pun sulit untuk dibendung. Berlinang tumpahan tetes air mata di pipi.

Jahat!!! Kejam!!! Pembunuh!!! Tidak bermoral!!! Pendosa!!! Haram!!!!

Tiba-tiba terdengar sebuah suara merintih dan memelas dengan sangat pelan dan lembut.

“Nak, saya sangat menyayangimu. Saya sangat mencintaimu. Kamu tidak bersalah, Nak! Ini semua adalah kesalahan saya. Ingat, ya, sayang, saya selalu mencintaimu. Biarlah ibu yang menanggung semua rasa malu dan sakit. Ibu hanya tidak ingin engkau turut merasakan apa yang ibu rasakan. Kemiskinan. Duka. Nestapa. Cemooh. Tidak rela rasanya ibu melihat kamu mendapat predikat sebagai anak haram seumur hidup. Tidak, sayang! Kamu tidak boleh merasakan itu semua!!!”

Hiks… hiks… hiks…!!!

Saya pun membalas suara itu, “Sebegitu kejamnyakah saya memperlakukanmu, Bu? Sebegitu jahatnyakah saya sampai tega berpikir bahwa ibu adalah orang yang kejam dan tidak berperasaan? Sebegitu piciknyakah saya sampai saya tidak bisa berpikir bahwa Ibu adalah seorang pendosa dan saya adalah seorang malaikat? Maafkan saya, Bu! Maaf!”

Sebuah perdebatan di dalam pikiran saya yang berkecamuk sedemikian hebatnya. Peperangan antara pikiran dan suara hati yang begitu meriah dan bergelora di dalam tubuh saya.

Menggugurkan seorang anak yang tidak berdosa merupakan perbuatan yang sangat tidak manusiawi. Keji dan tidak berperikemanusiaan. Sementara itu, pesimis memikirkan masa depan seorang anak juga perbuatan yang sangat alami. Apalagi ditambah dengan himpitan ekonomi dan keras serta kejamnya dunia. Sepanjang hidup anak yang lahir tanpa orang tua yang lengkap akan mendapat predikat sebagai anak haram. Anak di luar nikah, bahasa halusnya dalam surat kenal lahir yang diterbitkan pemerintah.

Menyalahkan orang lain cenderung menjadi kesenangan bagi sebagian orang. Menghina, mencemooh, mencibir adalah hiburan dan menjadi menu keseharian. Kalau memang kita merasa benar, mengapa tidak berani untuk berkaca? Melihat dan mempertanyakan apa yang telah kita perbuat? Mempertanyakan kebenarannya? Mempertanyakan pula, apa sebetulnya yang telah kita lakukan atas nama kebaikan dan kebenaran itu, selain dari menghujat, menghukum, dan memberi predikat buruk?

Hmmm….(ASA)

Salam Kompasiana,

MARISKA LUBIS

Kunjungi kami di Asamariska’s Blog

Share on Facebook Share on Twitter

~ oleh Mariska Lubis pada September 30, 2009.

4 Tanggapan to ““Ibu! Apa Salah Saya, Bu?””

  1. Saya teringat waktu pendidikan seks di SMA, kami semua diajak nonton film yang berjudul “Silent Scream” yaitu sebuah film documenter oleh Dr. Bernard Nathanson yang secara gambling mendokumentasikan proses aborsi. Dlama film itu terlihat jelas (lewat USG) bahwa janin tersebut Nampak seperti berteriak dan mencoba melarikan diri dari pisau kuret yang digunakan. Dr. Nathanson sebelumnya seorang yang pro-choice (pendukung aborsi), bahkan salah satu tokoh kunci legalisasi aborsi di Amerika Serikat, namun setelah kemajuan ultrasound beliau mempertimbangkan posisinya (termasuk karena documenter ini menurut sebagian orang) dan beralih menjadi seorang yang pro-life (anti-aborsi).

    Mungkin ada baiknya kalau film ini dipublikasikan secara luas (atau paling nggak buat anak2 SMP dan SMA). Mbak Mariska bisa liat videonya juga di youtube dan google soal video ini beserta Dr. Nathanson. Cuma kalo liat, harus kuat ya Mbak, saya aja nonton film ini sekitar 17 taon lalu udah merinding, apalagi sekarang begitu udah punya anak, nggak berani liat lagi.

    Soal panggilan anak haram, sekarang kayaknya udah jarang ya. Justru yang banyak anak di luar nikah ini teman2 seumuran saya yang ortunya nggak ngerti soal surat nikah, jadi banyak diantara mereka yang ditulis “Anak diluar nikah” padahal ortunya nikah baik2 dan nggak kecelakaan LOL. Panggilan itu kan sebenernya asalnya adalah sanksi sosial. Sebenernya sanksi sial buat bikin orang takut (kalo sayang anak masak mau sih anaknya dipanggil anak haram) dan jera, tapi dengan kemajuan teknologi akhirnya orang bisa “ngakalin” supaya nggak kena sanksi itu (dalam hal ini daripada punya anak haram, mending aborsi aja). Plus nature dari sekelompok manusia biasanya demen nyari2 kesalahan orang laen.

    Balik lagi semuanya ke soal pendidikan (termasuk pendidikan seks). Sayangnya banyak pihak yang senang kalo rakyatnya pada bego, biar gampang “digiring”. Kalo di Amrik biasanya ada 2 pilihan di sekolah: diajarkan “abstinence” (terutama bagi faith-based schools) atau anak2nya dikasih pil KB begitu mulai puber atau kondom bisa diakses dimana-mana (waktu saya kuliah ada usulan untuk menyediakan kondom di dorm tapi akhirnya gagal).

    Untuk mencegah aborsi ada juga tindakan “persuasif” seperti Safe Haven Law (Baby Moses Law) di US dimana ortu boleh meninggalkan bayi dan bayi tsb diurus oleh negara.

    Sekali lagi maaf kalo komentarnya kepanjangan Mbak, cuma tulisan Mbak sangat menarik untuk dikomentari. Terus menulis ya Mbak.

  2. Terima kasih banyak atas masukannya semoga saja ada banyak yang bisa melihat dan merasakan seperti apa yang Anda lihat dan rasakan. Ini sangat penting bagi masa depan kita bersama.

  3. Ibu slah saya apa ?.
    bapak salah saya apa ?. Barangkali ini bisa menjawabnya …

    Entah karena benar-benar ingin melepas kalian, entah karena sebab lainnya, sepertinya hanya dia ( baca Ayah ) yang tahu alasan yang sesungguhnya tetapi yang jelas dalam sebuah lenguhan panjang dia buka gerbangnya dan membiarkan kalian berhamburan keluar dari tempat semula kalian berehat.

    Dalam bilangan waktu yang amat singkat maka tidak kurang dari tiga ratus juta kalian muncrat, melesat cepat, bersaing hebat, saling sikat dan terkadang tersesat menuju suatu tempat yang secara kodrat akan menjadi habitat diantara kalian yang paling kuat untuk beberapa saat.

    Entah karena memang menginginkan kalian, entah karena sebab lainnya sepertinya hanya dia ( baca Ibu ) yang tahu alasan yang sesungguhnya tetapi yang jelas dalam sebuah geliat singkat dia bukakan gerbang bagi kalian agar dapat merapat di dermaga kodrat meskipun tanpa upacara penyambutan apalagi sebuah helat.

    Sesaat setelah melesat, melalui perjuangan yang amat berat salah satu atau beberapa diantara kalian yang paling kuat dapat mendarat di dermaga kodrat, merapat, berjabat untuk meninggalkan ciri dan tanda sebagai kandidat penghuni jagat.

    Sesaat setelah mendarat di dermaga kodrat terjadilah sesuatu yang super dahsyat lebih tepat disebut mukjizat, dari hanya sebuah noktat perlahan berubah menjadi bongkahan cokelat sampai akhirnya berbentuk jasat dengan sedikit geliat.

    Sembilan bulan sepuluh hari, bisa juga lebih cepat, kalian berada di lorong kodrat, lorong yang menjadikan dia yang memilikinya menjadi machluk paling terhormat ternyata membuat kalian yang terkuat merasa terjerat dan dengan meronta menggeliat minta segera diluncurkan ke jagat.

    Maka meluncurlah yang terkuat menjadi salah seorang penghuni jagat, dari tak tahu apa-apa yang hendak dibuat, perlahan tumbuh dan berkembang dengan pesat yang bisa baik dan bisa jahat tergantung niatan si pembuat serta pengaruh habitat.

    Semoga saja semua terjadi tidak hanya dalam naungan anugerah “ syahwat ” dengan bonus nikmat sesaat …
    Tetapi juga dalam naungan ;
    Anugerah “ rawat “ dengan bonus hidup selamat …
    Anugerah “ hormat “ dengan bonus hidup bermartabat…
    Anugerah “ taat “ dengan bonus nikmat hakikat…
    Sehingga sang machluk super dahsyat selamat dunia akhirat.

    Begitu janji dari Dzat Yang Maha Rahmat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: