Kata Siapa Buaya Itu “Buaya”?

Mariska Lubis

MARISKA LUBIS

PERNAH ada yang kepikiran, nggak, kenapa kalau pria hidung belang disebut sebagai buaya darat? Memangnya kalau buaya laut kenapa? Sama-sama buaya ajaib, kan?

Ceritanya waktu saya diundang ke sebuah pesta perkawinan ala Betawi. Bagus dan meriah banget! Ada silat-silatan. Ada tanjidor. Ada ondel-ondel. Baru kali itu saya “ngeh” kalau orang Betawi sudah dari sananya penuh dengan rasa humor yang tinggi. Bayangkan saja, waktu mempelai pria datang dan mau masuk ke rumah mempelai wanita, ayah dari mempelai wanita itu tiba-tiba keluar. Bertolak pinggang di depan pintu sambil mengusung golok. Dia pun dengan lantangnya berteriak, “Langkahin dulu mayat ane, baru lu bisa kawin sama anak ane!” Hehehe…

Yang paling menarik perhatian saya adalah justru roti buayanya. Soalnya jadi ingat semasa kecil dulu di saat saya masih sering dibelikan roti buaya oleh papa di Jalan Braga, Bandung. Hmmm… nyam… nyam…. Apalagi yang ini roti buayanya besuarrrr banget. Kayaknya dimakan lima puluh orang pun nggak habis, tuh! Ada dua lagi!

“Bang, memangnya roti buayanya mau diapain, sih?”
“Dipajanglah!”
“Bukan dimakan?”
“Si Enon! ‘Ni roti kudu ditaro di rumahnya penganten. Biar mereka awet!”
“Awet? Roti mana awet, bang! Palingan juga cuma tahan semingguan doang!”
“Eeh… ini roti simbol kesetiaan, tahu!”
“Setia…??? Mana ada buaya yang setia? Ada-ada aja, deh!”
“Buaya darat, iye kagak setia! Bininya banyak, noh! Kalau buaya beneran, sih, bininya satu doangan.”
“Oh, gitu ya, bang?!”

Kaget juga saya mendengarnya. Baru tahu! Kirain buaya sama kayak buaya darat yang terkam sana terkam sini. Nggak tahunya setia banget! Terus bagaimana ceritanya ya, bisa ada istilah buaya darat?

Kebetulan ada teman yang mengajak saya shooting sebuah acara teve di lokasi penangkaran buaya. Tak perlu basa-basi, saya langsung “nodong” seorang pawang di sana untuk menjelaskan masalah perkawinan buaya.

“Apa benar buaya setia?”
“Benar.”
“Pasangannya cuma satu?”
“Iya.”
“Nggak ganti-ganti?”
“Nggak.”

Jawaban singkat yang membuat saya semakin bingung. Terus apa, dong, jawabannya???

Sempat terpikir kalau ini ada hubungannya dengan tangkur buaya. Itu, lho, penisnya buaya yang dikeringkan dan dijadikan ramuan bahan minuman. Katanya, sih, bisa membuat pria jadi Mak Joss! Belum ada penelitian yang jelas soal ini. Masih seputar mitos saja biarpun banyak pria yang percaya.

Nah, kalau pria “Mak Joss”, kan, bisa membuat banyak perempuan bergelimpangan, tuh! Bukan hanya satu lagi! Bisa banyak dan terhingga, katanya. Semau-maunya saja! Sekuat-kuatnya, deh! Apa ini awal muasalnya istilah buaya darat? Minum ramuan tangkur buaya biar sekuat buaya dan menjadi buaya darat. Gitu kali, ya?

Please, tolongin dong kasih tahu saya jawaban yang benar? Terima kasih sebelumnya.(ASA)

Salam Kompasiana,

MARISKA LUBIS

Artikel ini dapat juga dibaca di Kompasiana

Share on Facebook Share on Twitter

~ oleh Mariska Lubis pada Oktober 1, 2009.

3 Tanggapan to “Kata Siapa Buaya Itu “Buaya”?”

  1. mungkin,
    karena buaya rakus, asal daging di makan.
    tak peduli seger, peot, bulat, lonjong, pokoknya asal daginf.

    salam kenal

  2. […] Kata Siapa Buaya Itu “Buaya”? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: