Jadi Membayangkan Hidup Tanpa Polemik Politik

Mariska Lubis

MARISKA LUBIS

ENAK nggak, ya??? Semuanya serba setuju. Serba seia sekata. Tidak ada tudingan. Tidak ada fitnah. Dataaaarrrrr banget!!!

Kayaknya nggak juga, ya? Apa enaknya hidup tanpa ada caci maki? Tidak ada kata salah. Tidak ada juga ada alasan. Apalagi pembelaan diri… hmmm… bosan kali, ya??? Bisa mati otak lama-lama.

Maaf, nih, sekali-kali nulis tentang ini nggak apa-apa, kan, ya? Gemas juga, sih!!! Gatal!!! Terlalu banyak sudah polemik politik yang menurut saya tidak penting, tidak jelas, dan tidak bermutu. Hehehe…

“Saya pikir negara ini sudah carut marut!!! Berantakan!!! Nggak jelas!!!”
“Iya, ya?!”
“Ya, iyalah!!! Korupsi di mana-mana… penindasan di mana-mana… pendidikan kacau… Mau apa, sih, orang-orang itu?”
“Para koruptor atau pengelola negara?”
“Pengelola negara yang koruptor kali!!!”
“Memangnya siapa yang milih mereka, sih?
“Rakyatlah!!! Mereka itu korban ketidaktahuan mereka.”
“Maksudnya rakyat itu bodoh?”
“Sengaja dibodohi!!!”
”Kenapa, dong, mau dibodohi?”
“Siapa yang mau dibodohi?! Memang bodoh, kok!!!”
“Jadi merasa bodoh, nih?”
”Enak aja!”
“Habis maunya apa, dong?”
Tau, ah! Pusing!!!”
Yeeeeee… hehehe…

Kira-kira begitulah percakapan saya dengan seorang mahasiswa yang sangat berani dan sangat berapi-api dalam membela negara dan meneggakkan hukum serta keadilan. Habis lucu juga, niat baik tapi saking terlalu semangatnya, malah jadi lupa mana yang seharusnya dilakukan. Buntutnya, perang mulut, deh!!! Kalau nggak pas demo, ya pas setiap kali ada kesempatan untuk bicara. Kocak!!!

Polemik dalam berpolitik adalah hal yang biasa dan sepatutnya terjadi. Menurut saya, lho!!! Soalnya, kalau tidak ada polemik mana mungkin ada perkembangan dan kemajuan? Malah bisa jadi kemunduran kali? Hanya saja, sebetulnya cara penyampaian maksudnya saja yang seringkali bikin kisruh. Bukannya benar, tapi malah ikut berantakan dan membuat semuanya jadi lebih berantakan.

Jadi ingat perkataan seorang dosen di kelas Political Changes,  sewaktu seluruh muridnya diundi untuk membela sebuah negara perihal urusan militarisasi dan pelucutan senjata. Ada yang protes waktu itu karena merasa tidak adil bila ada yang mendapatkan negara Amerika Serikat, yang kita semua juga sudah tahu tidak mungkin diminta untuk mengurangi pasukan apalagi senjatanya. Sudah pasti dia akan menjadi sasaran empuk bagi yang lain. He he he…. Lalu dosen saya itu menjelaskan, yang kira-kira begini, “Bila kita ingin protes dan melakukan serangan terhadap sesuatu hal, termasuk sebuah negara, alangkah baiknya bila kita memulainya dengan belajar bagaimana menjadi lawan terlebih dahulu. Ini adalah sebuah taktik serangan politik, bila kemudian nanti kita mengajukan sebuah gugatan atau tantangan, maka polemik politik yang terjadi akan lebih elegan, lebih pintar, dan lebih jelas arah serta tujuannya. Kemungkinan untuk menang pun lebih besar dibandingkan kita hanya melihat dari kaca mata kita sendiri saja. Pernahkan kalian berpikir apakah tidak mungkin lawan mempelajari kita juga sebelum bertahan ataupun menyerang?”.

Benar banget, menurut saya. Menurut saya, lho!!! Sudah seperti main catur saja. Bila ingin menang, sebelum kita melangkah, kita harus sudah tahu lebih dulu apa yang akan lawan pasang setelah itu. Kalau cuma asal melangkah saja, sesuai dengan suka-suka dan sesuai dengan pikiran kita saja, akan dengan mudahnya kita dilalap oleh lawan. Iya, nggak, Kang Pepih??? Soalnya beliau suka main catur. Saya lihat dari profilnya di layar kompasiana. Hehehe…. Punten, ya, Kang!!!

Seorang politikus yang baik seharusnya bijaksana, arif, dan memiliki pemikiran serta tindakan yang cermat, cerdas, tepat waktu, dan teliti. Berpikir dua langkah maju ke depan. Bukan mundur ke belakang. Sama sekali tidak emosional tetapi harus sangat sensitif dan peka. Baik itu yang sedang menjabat ataupun yang menjadi oposisinya. Dua-duanya sama saja. Kan, dua-duanya juga atas nama kepentingan rakyat, bangsa dan negara juga.

Jelas banget, kok, mana politikus yang senang berpolemik tapi bodoh. Lucu juga buat bahan ketawaan. Kalau yang jahat, memang patut dilibas. Apalagi yang senangnya menjual negara untuk kepentingan pribadi. Wah, itu, sih, jangan tanya, deh!!! Banyak juga politikus yang hebat, pintar dan berani. Bukannya membela atau menjilat, nih! Saya bukan orang partai, lho!!! Tapi saya suka sekali dengan gayanya Bung Fadli Zon dalam politik.. Tenang tapi menghanyutkan. Tidak banyak bicara tetapi setiap perkataan yang dia ucapkan sungguh sangat penuh arti dan bermakna. Filosofi, pendirian, pemikiran, dan arah politiknya sangat jelas.   Cara beliau menyerang dan bertahan sangaaaatttt cantik, elegan, dan intelek. Oke, banget, deh!!! Saya ngefans banget sama dia.

Masih ingat peristiwa Monica Lewinsky dan Bill Clinton? Keren!!! Top habis!!! Ini adalah salah satu contoh kasus menarik yang menurut saya patut dijadikan contoh dalam berpolemik politik. Bill Clinton tidak pernah menyanggah ataupun mengiyakan perbuatannya, tetapi dia meminta maaf karena sudah berbuat sesuatu, yang sebagai seorang Presiden telah menyebabkan rakyat menjadi marah dan tidak karuan. Hillary Clinton pun sangat luar biasa. Dia justru sosok wanita yang menjadi sangat terlihat hebat, lihai, dan sangat berpendidikan. Dia sungguh tahu apa yang diinginkan oleh publik dan siap menghadapi tantangan yang ada. Hasilnya, dia jadi tambah dielu-elukan dan dipuja. Beda banget, kan, sama George Bush?! Hehehe….

Tapi, ya, susah juga kalau dibilang bodoh nggak mau, belajar ogah. Dikritik ngamuk. Mengkritik juga nggak jelas juntrungan, arah dan tujuannya. Memang, sih, manusia tidak ada yang sempurna, tetapi kenapa nggak mau berusaha untuk menjadi yang lebih baik dan membantu yang lain untuk menjadi lebih baik dengan cara  yang baik-baik? Mau jadi politikus, tapi nggak mau belajar??? Piye, toh??? Belajar dan terjun langsung, lho!!! Bukan cuma sekedar berteori, mencari barang bukti dan kesalahan orang lain serta bermasturbasi otak saja. Kalau kata salah seorang pentolah perang dunia pertama asal Jerman, sih, “Hey, stop beronani intelektual!!! Ayo kerja!!! Turuuuunnnn!!!”.

Setiap orang pasti pernah berbuat salah, termasuk saya juga. Tidak pernah, deh, ada yang luput dari kesalahan. Emosi memang sulit dibendung, nalar seringkali tiba-tiba padam kalau sedang emosi. Yah, tapi tidak ada salahnya, kan, kalau kita mencoba???

Intinya, polemik politik memang perlu, kok! Hidup akan lebih berwarna dengan setiap polemik dalam kehidupan. Hanya saja, pikirkan matang-matang bagaimana cara berpolemiknya agar tidak merugikan diri sendiri, orang lain, bangsa dan negara. Politik yang sesungguhnya juga akan lebih nyata, jelas bentuknya, dan mantap arahnya. Kita sudah susah, nih, jangan dibuat lebih susah lagi hanya dengan memikirkan diri sendiri saja. Teruskan perjuangan!!!

Jika ada yang keberatan atau kurang setuju dengan tulisan ini, tolong diberi tahu alasannya juga, ya! Biar saya bisa mengerti dan berpikir lagi. Bantu kawan untuk menambah wawasan, boleh, dong?!  Hehehe…. Tararengkiu!!!

Salam,

MARISKA LUBIS

~ oleh Mariska Lubis pada Oktober 6, 2009.

2 Tanggapan to “Jadi Membayangkan Hidup Tanpa Polemik Politik”

  1. Kadang2 inilah susahnya Mbak, harusnya kita belajar kayak Gus Dur “Koq gitu aja repot ?” – semua orang harusnya sadar bahwa (1) hidup itu kadang2 nggak adil dan (2) ktia nggak bisa selalu dapet apa yang kita mau. Jadi kalo emang ada sesuatu yang nggak sesuai dengan kehendak kita, kalau jago kita kalah, terimalah dengan lapang dada. Kalo emang ada tokoh politik yang nggak berkenan atau emang bermasalah tapi nggak diapa-apain sama polisi, belajarlah menerima kenyataan tersebut. Kita berusaha, tapi kalo emang udah nggak bisa diubah mau gimana ? Bukannya saya mau nyerah dengan keadaan, tapi daripada teriak2, kita sendiri yang darah tinggi dan ntar kena serangan jantung lagi. Mending banyak doa aja dan berusaha melakukan hal2 yang kecil dan praktis misalnya mendidik keluarga yang masih muda2 supaya jadi negarawan, bukan politikus. Trus semua juga udah ada yang ngatur koq, Tuhan itu adil koq.
    Kadang2 jadi sebel kalo baca blog karena banyak yang nggak dewasa, kata2nya kasar, malah ada yang ngajak revolusi segala. Nggak dibayangin emang kalo revolusi apa jadinya negara ini ? Lagian kalo jagonya menang, apa ada jaminan taraf hidupnya berubah ? Belom tentu kan ?
    Tapi nggak terbatas di Indonesia koq, kalo Mbak baca komen2 orang yang pro kontra Obama di US juga banyak yang kata2nya bikin rusuh aja.

    • Di mana-mana memang sama saja… Di Korea dan China gimana??? Parah juga… Saya memang sangat menyayangkan niat baik yang jadi justru malah jadi menambah buruk karena kurangnya pengetahuan akan bagaimana cara berpolitik yang baik dan benar. Obama memang banyak yang ngerecokin… tapi lihat bagaimana dia bersikap dan mengambil tindakan… beda banget, kan, sama yang menantang mereka? Makasih ya buat masukan dan komentarnya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: