Cinta Lama Bersemi Kembali

Haruskah ini terjadi? Illustrasi: Google

CINTA itu ada 23 tahun yang lalu namun rasa tidak pernah terungkap. Saat keduanya sudah memiliki kehidupan masing-masing, pertemuan menjadi sebuah kenangan. Ungkapan rasa cinta itu pun akhirnya ditumpahkan.

Saya jadi teringat sebuah lagu yang dimainkan oleh Maxim. Judulnya, “Somewhere In Time”. Mengenang saat dan waktu itu. Romantis banget!!! Jadi hanyut, nih!!! Hmmm….

Seorang teman lama sewaktu kuliah bertemu kembali juga dengan saya. Setelah beberapa lama kami saling menyapa lewat chat, saya tidak menyangka kalau dia kemudian mengatakan bahwa dia memiliki rasa itu untuk saya. Hanya saja waktu itu dia tidak berani berterus terang karena malu dan takut.

Dari dulu saya sangat mengagumimu. Saya jatuh cinta denganmu. Kamu sangat cantik, sangat pintar, dan sangat mudah bergaul. Namun sayang waktu itu saya tidak memiliki keberanian. Saya sudah takut duluan melihat pria-pria lain yang ada selalu ada mendampingimu dan selalu ada untuk kamu. Kapanpun dan dimanapun kamu berada, kamu tidak pernah tidak ada yang tidak mau menemani. Mereka semua seperti berebut untuk bisa ada di sampingmu dan mendapatkan cinta serta kasih sayangmu. Dan biarpun kita sudah berpisah lama, saya masih sering mencarimu. Begitu saya melihatmu ada di FB, saya senang sekali. Saya bisa melihat kamu lagi, dan paling tidak, sekarang saya bisa mengeluarkan segala rasa yang terpendam itu. Biarpun saya tahu kalau kita tidak akan pernah bersama. Saya tahu kamu tidak pernah mencintai saya.”

Saya sangat terkejut mendengar ungkapan hatinya. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak saya dia bisa begitu. Kok, bisa, sih?! Mana saya tahu kalau tidak pernah mengungkapkannya?! Mana mungkin juga saya bisa selalu merasakan segala rasa itu?!

Saya sangat menghargai perasaannya tetapi saya memang tidak memiliki rasa yang sama dengannya. Di mata saya dia seorang teman yang sangat baik hati. Matanya yang teduh dan lembut selalu bisa membuat suasana menjadi lebih nyaman. Saya memiliki rasa sayang untuknya namun bukan yang “spesial” itu, sehingga kemudian tidak menjadi masalah. Kami bisa saling mengerti.

Saya berkata padanya, “Maafkan saya yang tidak bisa merasakan perasaanmu. Mungkin karena kita memang bukanlah sepasang kekasih yang ditakdirkan untuk bersama. Saya yakin sekali ada yang lain yang seseorang di luar sana yang adalah cinta sejatimu yang sesungguhnya. Jangan pernah biarkan dia pergi dan hilang hanya karena rasa takut dan malu, ya!

Bagaimana kemudian bila ada yang memiliki rasa yang sama?! Inilah yang terjadi dengan seorang sahabat saya. Segala rasa kekaguman yang dulu pernah ada ternyata terus tersimpan di dalam hati. Baru setelah 23 tahun kemudian, semua rasa itu dikeluarkan. Mereka berdua ternyata sama-sama memiliki rasa yang sama. Sementara sekarang mereka berdua sudah memilki keluarga masing-masing. Apa yang harus dilakukan?! Apa yang akan terjadi?!

Terus terang saya sulit sekali menjawab pertanyaan ini. Di satu sisi, saya sangat mempercayai arti cinta yang sesungguhnya. Saya selalu menginginkan cinta itu ada. Saya juga selalu menginginkan semua untuk selalu mendapatkan cinta sejatinya. Kekasih hatinya. Belahan jiwanya. Namun di sisi lain, saya juga tidak bisa mengabaikan rasa tanggung jawab terhadap mereka yang hinggap di dalam hati dan menjadi bagian dalam kehidupan. Mereka yang terikat dalam sebuah perjanjian dan apalagi bila sudah ada buah hati.

Saya juga tidak bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Semua tergantung kepada pilihan apa yang akan diambil. Sangat dibutuhkan pemikiran yang matang, kejujuran, dan juga keberanian serta sikap yang tegas dalam menentukan pilihan ini. Jiwa yang besar dan kedewasaan serta kematangan juga sangat menentukan. Salah bisa menjadi beban. Benar juga bisa menjadi beban. Biarpun begitu semua masalah selalu ada jalan keluarnya. Yakinlah selalu bahwa Yang Maha Kuasa selalu memberikan yang terbaik.

Sebelum memulai menentukan pilihan, alangkah baiknya bila bertanya dahulu kepada diri sendiri. Apakah arti cinta itu untuk diri kita?! Mengapa kita mencinta dan mengapa kita dicintai?! Untuk apa kita bercinta?! Siapakah cinta kita?! Apa benar itu cinta?! Bila sudah terjawab semuanya dan dijawab dengan sejujur-jujurnya menggunakan jawaban dari hati yang sesungguhnya, maka kemudian baru kita bisa memikirkan yang selanjutnya. Bila tidak terjawab, lebih baik renungkanlah kembali. Bersabar lebih baik daripada tergesa. Hanya waktu yang bisa bicara. Cinta itu selalu ada.

Salam,

Mariska Lubis

(Tulisan ini telah publish di Kompasiana tanggal 09 Maret 2010

~ oleh Mariska Lubis pada Maret 9, 2010.

4 Tanggapan to “Cinta Lama Bersemi Kembali”

  1. bagus banget

  2. Mbak Mariska, saya sangat tersentuh atas tulisan cinta lama bersemi kembali. sayapun sedang mengalami hal tersebut, kami terpisahkan oleh keadaan pahitnya kehidupan. Tidak ada kata perpisahan karena kita dipisahkan oleh waktu. setelah 28 tahun berpisah kita dipertemukan kembali. kami sudah terikat oleh tanggung jawab rumah tangga dan sudah ada buah hati..
    Mbak Mariska, luar biasa yang saya dan dia rasakan walau via telpon dan sms karena jarak yang memisahkan. kita sudah kommit sebagai saudara dan berjanji tidak akan menghancurkan yang telah diberikan TUHAN YME serta tidak akan menyakiti buah hati dan pasangan. Rasanya ada energi yang kuat yang membantu kami untuk bertahan dan kuat menghadapi semuanya. Cinta kami bukan nafsu namun tulus dan agung. kami pasrah atas kehendakNYA dan menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas. Kami tahu cinta kami takkan pernah bersatu….

    • semoga cinta itu ada dan ada selalu… cinta tak selaluharus bersama di dunia ini tetapi yakinlah atastali cinta itu yang takakan pernah hilang dilorong waktu…

      salam hangat selalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: