Menyatu dalam Persetubuhan

PERNAH nggak memperhatikan pasangan suami istri yang sudah lama menikah? Perhatikan, deh!!! Mereka, kok, jadi mirip, ya? Bukan hanya wajah dan penampilannya saja. Sifat, tingkah laku, dan cara berpikirnya juga mirip banget. Kok, bisa begitu, sih?

Ceritanya ada seorang ibu yang memperhatikan anaknya. Ibu ini merasa bahwa banyak sekali perubahan yang terjadi dalam diri anaknya itu. Dia merasa seperti tidak mengenalnya lagi. Beda banget dengan anak yang selama ini dia kenal. Sekarang, dia merasa bahwa anaknya sudah berubah menjadi suami anaknya itu. Kepribadian yang ada di pria itu, pindah ke anaknya. Mau yang positif, mau yang negatif. Begitu juga kebalikannya. Kayak tukeran gitu?!


Ibu yang sangat menyayangi anak dan menantunya ini, bertanya kepada saya. “Gimana, sih, logikanya? Saya ingin tahu!”.

Saya bilang kepada ibu itu, “Ibu bersyukurlah kalau sampai hal ini terjadi. Berarti, anak dan menantu ibu itu memang sudah benar-benar “bersetubuh””.

Kenapa saya bilang begitu? Karena persetubuhan yang mereka lakukan benar-benar menyatukan seluruh hati, pikiran, dan jiwa dua orang manusia ke dalam “satu tubuh”. Meluruhkan semua yang ada untuk kemudian menjadi sesuatu yang baru. Sesuatu yang bisa dibilang sebagai mereka berdua. Bukan masing-masing lagi. Dan ini sangat indah. Sangat luar biasa. Hebat!!!

Tidak mudah, lho, membuat yang “satu” ini. Perlu penjiwaan yang sangat kuat untuk bisa menghasilkannya. Perlu sensitifitas yang sangat tinggi. Kepasrahan dan ketulusan yang sangat besar. Tidak ada lagi yang namanya ego. Tidak ada lagi keinginan. Benar-benar murni!!! Bersih!!! Suci!!!

Beda banget, kan, kalau berhubungan seks dengan orang yang tidak benar-benar kita cintai? Sama yang asal dapet, deh!!! Indikasinya, kalau sudah puas, rasanya pengen buru-buru nyuruh pergi saja. Biarpun rasanya mungkin enak, tapi tetap saja “berbeda”. Iya, nggak? Ngaku, dong?!! Hehehe….

Soal bagaimana logikanya sampai semua ini bisa terjadi, pernah dibahas oleh beberapa orang pakar fisika dunia. Kata mereka, ini ada hubungannya dengan energi. Energi yang dikeluarkan saat sepasang insan bercinta, bisa berubah menjadi gelombang dan partikel. Nah, cairan yang dikeluarkan pada saat bercinta, baik air liur, pelicin dalam vagina, maupun sperma, adalah sebagai konduktor menyerapnya gelombang itu ke dalam tubuh. Gelombang itu kemudian terserap ke dalam tubuh lewat air-air itu, sehingga kemudian menyatu ke dalam setiap sel yang ada di dalam tubuh kita. Karena itulah kemudian pada akhirnya, terjadilah sebuah “persetubuhan”. Sebuah “penyatuan”.

Lalu, apa bedanya dengan energi yang dikeluarkan dengan orang yang benar-benar melakukannya berdasarkan cinta dan yang tidak? Sama-sama mengeluarkan energi juga, kan? Nah, ini lain lagi. Kata mereka, ini ada hubungannya dengan yang namanya perbedaan gelombang. Bila kita melakukannya berdasarkan cinta dan dengan sepenuh hati, setiap pasangan itu berada dalam satu gelombang yang sama. Sedangkan kalau tidak, gelombangnya jadi berbeda. Kayak radio saja, deh!!! Kalau yang satu lagi tune in di FM, sedangkan yang satu lagi di MW, jadi, nyambung nggak? Nggak, kan? Tapi kalau sama-sama di FM, dan sama-sama mendengarkan stasiun yang sama, pasti bisa nyambung, deh!

Saya juga sampai manggut-manggut dan ternganga mendengar penjelasan ini. Gila benar, ya!!! Memang kita benar-benar harus hati-hati kalau mau berhubungan seks.. Siapa yang tahu energi yang kita hasilkan ini menjadi apa nantinya? Makanya, saya kemudian sangat jatuh cinta dengan seks. Banyak banget yang bisa saya pelajari dari sini. Baca, deh, artikel saya yang berjudul “Mengapa Saya Jatuh Cinta Dengan Seks?”.

Sebetulnya, kalau menurut saya, untuk urusan yang satu ini kita tidak perlu sampai harus selalu berpikir dengan nalar. Dengan hati juga, dong!. Kita sudah bisa, kok, merasakan perpaduan itu. Persetubuhan itu. Penyatuan itu. Tapi, ya, kalau kita mau. Kalau nggak mau, susah juga. Kebanyakan dari kita memang merasa puas bila sudah bisa menjadi orang yang logis. Kalau logis, berarti sudah pasti benar. Padahal, belum tentu juga. Yang logis itu belum tentu klop dengan yang namanya hati dan perasaan. Makanya, dua-duanya harus sejalan. Seiringan. Seimbang.

Gimana, nih, pembaca?! Mau, kan, bisa menjadi “satu”?!!!

Semoga saja bisa membuat hubungan keluarga menjadi lebih baik dan harmonis ya!!!!

Salam,

Mariska Lubis

~ oleh Mariska Lubis pada Maret 24, 2010.

16 Tanggapan to “Menyatu dalam Persetubuhan”

  1. mantapp.
    salam kenal gan..
    http://supenir.wordpress.com

  2. Saya setuju dengan uraian di atas. Tetapi kalau boleh menambahkan, hal itu juga terjadi terhadap pelaku poligami…inilah uniknya sebuah persetubuhan yang diikat dalam ikatan sah.

  3. Indah ya kalo bersetubuh dengan sepenuh jiwaa… tapi bagaimana apabila persetubuhan itu dilakukan oleh sepasang suami istri yang berbeda agama? Apakah bisa dikatakan ‘bersetubuh’ dengan sepenuh jiwa juga…

    • indah banget… bercinta itu kata yang paling saya sukai… saya tidak bisa menilai karena semua nilai ada di Tangan Yang Maha Kuasa.. dan yang melakukannya sendirilah yang bisa menjawab apakah itu dilakukan dengan sepenuh jiwa atau tidaknya..

    • klo yg bersetubuh org yg gak punya agama gmana,kita taunya hrs ada agama ini ato itu…di luar sana ada negara yg gak mau tau soal agama men…bersetubuh tetap aja sepenuh jiwa…

  4. saya hanya bisa bercinta dengan orang yang benar2 saya cintai, klo bukan dgn orang yg di cintai itu bukan bercinta namanya. sip… bercinta atas dasar cinta. Thx u

  5. Mauuu!!!

  6. Mengesankan!

  7. saya bisa menikmati dgn sepenuh jiwa hanya dgn suami dan pasangan saya ( ” )
    saya menganggap anugerah yang luar biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: