Membunuh Hasrat Seksual

MEMATIKAN segala keinginan. Melenyapkan semua nafsu dan dorongan yang ada dan terjadi secara otomotis dan alamiah sekalipun. Dibuang dan disingkirkan. Hanya atas nama sebuah dosa.

Pembenaran pemikiran dan sejuta alasan diberikan. Logika diaggap sebagai kunci. Hati menjadi sebuah kewajiban. Asa dan rasa tidak diperhitungkan. Mumbunuh hasrat seksual sama dengan menjadi seorang manusia yang benar-benar “bersih”. Melakukan masturbasi otak dan onani intelektual sendiri di mana orgasmenya pun palsu.

Seorang anak muda yang tinggal di daerah di mana agama terbesar di daerah itu dijadikan sebagai tameng atas perilaku otoriter para pemimpinnya. Agama bukan lagi sebagai sebuah ajaran yang suci tetapi merupakan sarana untuk mendapatkan posisi dan kedudukan politik. Tidak ada yang namanya hak asasi ataupun kebenaran. Yang tinggal hanyalah kewajiban dan kepalsuan belaka. Budaya dan pemikiran masa lampau pun dianggap sebagai sebuah kesalahan. Masyrakat hidup dalam sebuah tirani kegelapan dan pembodohan. Kebenaran mutlak ada di tangan pemimpin. Kalau diperhatikan, ujung-ujungnya juga duit!!! Habis apa lagi?! Biarpun mereka merasa telah berbuat seolah-olah mereka adalah seorang nabi, namun perjuangan nabi yang menentang kebodohan, pikiran palsu dan tirani yang merupakan tanda lain dari kebenaran seorang nabi, tidaklah mereka jalankan. Mereka hanya “merasa” namun tidak dalam arti yang sesungguhnya. Yah, mereka memang hanya manusia biasa, kok!!!

Sejak kecil hingga dewasa, anak muda ini dididik dan didoktrin bahwa dengan memiliki hasrat dan nafsu seksual adalah dosa. Padahal, tidak pernah dijelaskan alasan pastinya. Bahkan urusan anatomi tubuh manusia pun tidak pernah diberikan lewat pendidikan secara formal. Sehingga ketika dia mulai beranjak dewasa dan harus berhadapan dengan kenyataan yang ada, pergulatan besar pun terjadi di dalam diri dan pikirannya. Sayangnya, ketakutan mendominasi. Ditambah lagi dengan fakta dan pengalaman di mana kejahatan seksual terjadi di mana-mana dan dilakukan oleh orang-orang yang selama ini mengaku bahwa dirinya adalah “orang suci”. Timbul pemberontakan yang akhirnya mengarah kepada pemikiran yang sangat ekstrim untuk dirinya sendiri. Dia secara perlahan-lahan membunuh segala hasrat seksual yang dimilikinya yang tanpa disadarinya juga merupakan bentuk dari pembunuhan atas karakter dan pribadinya sendiri.

Dia lalu tumbuh menjadi manusia yang penuh dengan kebohongan dan kemunafikan. Semua yang dilakukannya hanya untuk mengikuti arus lingkungan sekitarnya. Tidak ada lagi yang namanya kepuasan atas apa yang disebut dengan “jati diri” dan “harga diri” yang sesungguhnya. Semuanya hanyalah semu dan palsu.

Bicara soal pembunuhan ini, apa yang membuatnya berbahaya? Saya tidak akan membahas terlalu banyak juga, tetapi kita bisa mengambil contoh nyata yang sering terjadi di masyarakat. Berapa banyak orang yang tadinya disebut sebagai orang baik-baik lalu kemudian berubah drastis menjadi seperti macan yang baru keluar dari dalam kandang? Tidak bisa mengontrol diri dan justru terjerembab ke dalam lembah hitam yang sangat dalam? Buanyak banget, kan?! Tidak peduli usia pula. Bahkan banyak yang justru mengalaminya pada saat mereka seharusnya sudah berada di usia dewasa. Kasarnya, nih, begitu mentok dan frustasi, semua prinsip dan idealisme pun dilabarak habis. Dihancurkan sampai ke akar-akarnya!!! Tidak ada lagi batasan dan larangan. Bandingkan dengan mereka yang sebelumnya pernah menjadi “anak nakal”?

Okelah, mereka kemudian tidak menjadi orang yang seperti itu, tetapi berapa banyak yang pada akhirnya memiliki masalah dan gangguan kesehatan seksual? Mulai dari ejakulasi prematur sampai impotensi permanen dan bahkan menderita berbagai penyakit seperti kanker. Keharmonisan rumah tangga pun terasa semu dan sama sekali jauh dari kata harmonis. Komunikasi yang berdasarkan sebuah kejujuran pun seringkali tidak ada. Soalnya, jangankan bisa jujur terhadap pasangan, terhadap diri sendiripun sudah terbiasa bohong?!

Pada akhirnya, beban menjadi sangat besar. Terasa berat dan sangat melelahkan. Sementara bila dihubungkan lagi dengan seorang nabi yang bekerja sangat keras untuk mendapatkan kesejahteraanya sendiri dan juga untuk mewujudkan kesejahteraan manusia, tidak ada kata beban bagi para nabi. Segala sifat kemanusiaan seorang nabi justru menjadikan mereka sebagai model “manusia sempurna”. Oleh karena itulah, para nabi sangat tepat untuk menjadi panutan yang memiliki kemampuan luar biasa untuk membimbing manusia.

Dalam konteks seksual, kenapa, sih, hasrat seksual itu harus dibunuh? Bukankah itu pemberian dari Tuhan juga? Tidakkah ada keinginan untuk menghargai dan mengapresiasikan semua anugerah itu? Yang diperlukan adalah justru pengendalian diri. Mengontrol bagaimana menyalurkan hasrat seksual itu ke arah yang sehat dan benar. Bila memang takut tidak memiliki pelampiasan, kan, bisa energi yang ada dialihkan ke dalam bentuk yang lebih positif. Olahraga dan berkesenian, misalnya. Menghasilkan sebuah hasil kerja dan karya nyata yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain merupakan sebuah sensasi yang sangat orgasmic. Memberikan kepuasan tersendiri bagi setiap manusia yang melakukannya.

Berbeda dengan orgasme seksual? Tentu saja berbeda!!! Tetapi paling tidak ada kejujuran di sini. Tidak ada penipuan terhadap diri sendiri. Menjadi manusia yang lebih bebas dan tanpa beban. Mampu juga mengontrol diri dan berpikir secara lebih seimbang antara rasio dan perasaan. Menjadikan kita juga seorang manusia yang sehat secara jiwa dan tubuh. Lebih enak, kan?!

Mendidik dan mengajar manusia lain bukan berarti kemudian menjadikan mereka untuk seperti kita. Jadikanlah mereka manusia-manusia yang seutuhnya. Memiliki kepribadian dan karakter yang kuat sehingga mereka menjadi manusia yang tahan atas segala guncangan, terpaan, maupun godaan. Prinsip dan idealisme serta pemikirannya sejalan dengan kejujuran dengan segala perilaku dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak munafik!!! Jujur!!!

Harus saya akui, bahwa tulisan ini adalah bagian dari kemarahan saya atas segala bentuk pembodohan yang terjadi. Namun saya juga sangat berharap bahwa kemarahan saya ini bisa memberikan masukan yang positif bagi mereka yang mau membacanya. Hidup ini terlalu indah hanya untuk dipandang dari sebelah mata.

Salam, MARISKA LUBIS.

~ oleh Mariska Lubis pada Maret 26, 2010.

16 Tanggapan to “Membunuh Hasrat Seksual”

  1. Hidup untuk jujur terhadap diri sendiri dan menjadi diri sendiri adalah sesuatu yang harus kita usahakan selalu

    Nice article mbak ML, saya banyak belajar dari tulisan-tulisan anda

    salam kenal

  2. Betul…..Betul….Betul…!

  3. saya senang sekali membaca artikel-artikel mbak ML, pola pikir saya tentang seks menjadi terbuka lebar.
    terima kasih mbak…

    terima kasih juga mbak sudah di confirm FBnya…hehe

  4. saya tidak tau ternyata ada orang yang secara tidak langsung dibunuh hasrat seksualnya oleh doktrin agama yang salah kaprah. sebenarnya, seks dalam beberapa pandangan, terutama dalam agama, sama saja dengan ibadah, di mana seks dilkukan untuk tujuan yang mulia. itulah keindahan seks, jika ada di right place and right time. anyway, saya setuju dengan bu mariska mengenai pengendalian diri. smoga sukses slalu bu🙂

    • ya kita sering salah kaprah di dalam mengerti tentang seks itu sendiri sehingga kemudian dianggap sesuatu yang tabu untuk dipelajari bahkan dianggap menjerumuskan… padahal semuaitu terletak padapola pikir dan cara pandang kita saja… seks itu tak mesti porno…

      terima kasih…

  5. membunuh hasrat seksual sma saja dengan pembunuhan atas karakter sendiri, yang sesungguhnya seks itu juga telah menyatu dengan jati diri kita. yang sebenarnya adalah justru energi dari seks itulah yang harus diarahkan ke hal-hal yang positif yang akan membuat dunia menjadi lebih baik lagi.

  6. saya suka kata2 mba: “Hidup ini terlalu indah hanya untuk dipandang dari sebelah mata”

  7. walaupun telat mba’ saya ngucap TQ atas artikel ini

  8. […] pernah membahas tentang “Membunuh Hasrat Seksual” sebelumnya. Di mana dengan membunuh hasrat seksual sama saja dengan membunuh karakter dan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: