Pemutarbalikkan Fakta Tentang Seks

Google

Apakah ini juga harus dianggap sesuatu yang tidak benar untuk kemudian ditutup-tutupi, dihapuskan, dan dihancurkan? Apakah juga harus dianggap tidak beriman, tidak berkeyakinan, melanggar moral dan juga etika? Illustrasi: Google

Banyak fakta dituliskan dan disebarkan. Bukan hanya sekedar tulisan atau cerita belaka namun banyak juga yang sangat ilmiah. Yang menyedihkannya adalah bahwa fakta yang diuraikan tersebut kemudian diputarbalikkan. Tidak dipandang sebagai sebuah fakta namun dianggap sebagai dusta dan fiktif. Tak jarang juga malah dianggap sebagai sesuatu yang menjerumuskan. Kenapa tidak boleh bicara tentang fakta bila memang itu kenyataan? Kenapa harus takut menghadapi kenyataan? Apa karena takut merasa bersalah?


Saya masih ingat waktu saya menulis tentang kehidupan budaya seks yang terjadi di daerah Indramayu dan juga Karawang Saya bercerita bagaimana perempuan bisa memliki suami banyak dan bahkan bisa saling bertukar suami. Di tulisan yang lain saya juga bercerita bagaimana seorang suami rela melayani pria yang meniduri istrinya dengan menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan. Persis seperti seorang pelayan saja.

Begitu juga sewaktu saya mengungkap fakta tentang apa yang sekarang ini sedang terjadi di Tanah Abang dan Bandung di mana ada kelompok suami yang membiarkan istrinya untuk melakukan hubungan sejenis dengan perempuan lain. Malah mereka turut pula membantu melakukan perekrutan.

Kisah yang saya tuturkan bukanlah sebuah cerita fiktif. Bukan juga karena katanya atau kata siapa. Semua berdasarkan pengamatan langsung dan juga hasil wawancara langsung yang saya lakukan sendiri dalam rangka apa yang saya sebut dengan Tour de Sex. Perjalanan yang saya lakukan ke daerah-daerah baik di Indonesia maupun di negara lain untuk mempelajari berbagai macam budaya serta melihat keadaan sosial masyarakat di. berbagai macam wilayah yang memiliki perbedaan budaya dan struktur sosial. Tidak sedikit juga cerita yang saya tuliskan adalah hasil dari kegiatan seminar dan riset kecil-kecilan saya. Namun apa yang saya uraikan dalam tulisan-tulisan tersebut banyak yang menganggap tidak benar walaupun banyak saksi lain yang mendukung bahwa itu adalah benar adanya.Yah, tidak apa-apa juga. Bagi saya, yang paling penting adalah saya sudah mengungkapkannya.

Tidak ada maksud saya untuk menjelek-jelekkan wilayah atau daerah tertentu. Tidak ada juga maksud untuk memberikan nilai negatif atas sebuah budaya dan keadaan masyarakat. Saya menuliskan itu semua untuk membuka bahwa apa yang selama ini disangkal dan disanggah adalah ada. Semua itu adalah benar adanya. Kenapa harus ditutup-tutupi juga?! Ditutup-tutupi tidak menyelesaikan masalah. Dicari solusi bersama itu jauh lebih berguna dan bermanfaat. Masih banyak fakta lainnya yang belum saya ungkap. Saya akan buka satu persatu, ya!!! Jangan kaget, lho!!!

Yang sekarang ini sedang ada dalam benak saya adalah masalah dan fakta tentang keperawanan. Masalah keperawanan menjadi sangat sensitif mengingat ini berhubungan dengan perilaku sosial di dalam masyarakat. Selalu juga dikaitkan dengan masalah iman, keyakinan, agama, moral, dan etika sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Sehingga kemudian banyak sekali penolakan dan sanggahan atas fakta dan kenyataan yang ada tersebut. Fakta pun kemudian diputarbalikkan menjadi tudingan miring. Tidak bisa dipungkiri memang, kalau menunjukkan jari ke orang lain lebih mudah dibandingkan dengan menunjuk jari pada diri sendiri.

Perdebatan atas fakta dan juga pemutarbalikkan fakta atas keperawanan ini membuat saya bersedih hati. Mengapa semua ini harus terjadi? Benang akan menjadi sangat kusut bila tidak ada salah satu pihak yang mau menarik mundur dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Keperawanan yang dimaksud oleh yang mengungkapkan fakta juga sebetulnya tidak jelas apa batasannya. Kalaupun kemudian hanya dibatasi sampai dengan urusan selaput dara, harusnya disebutkan juga. Sementara mereka yang menyanggah dan memutarbalikkan fakta juga menurut saya tidak bisa melihat dengan jelas duduk perkaranya. Sama-sama tidak mau melihat dengan jelas apa yang dimaksud dengan keperawanan.

Keperawanan bukan hanya soal selaput dara semata. Ini adalah masalah tentang arti kata perawan itu sendiri. Perawan adalah suci yang berarti memang belum tersentuh. Bila perempuan yang sudah melakukan seks oral namun tetap memiliki selaput dara, apa masih bisa disebut suci? Apabila pria yang sudah melakukan masturbasi sendiri apakah juga masih bisa disebut perawan? Semuanya sudah pernah menyentuh dan disentuh bukan? Kenapa masih bisa merasa suci dan juga perawan?

Keadaan inilah yang seringkali saya sebutkan sebagai sebuah disorientasi moral dan juga kesemrawutan soal etika. Di mana apa yang menjadi asas dari moral, yaitu adil dan keadilan itu sendiri juga diabaikan. Begitu juga dengan apa yang disebut dengan etika yang seharusnya merupakan sebuah kesepakatan bersama di dalam masyarakat, juga tidak dianggap penting lagi. Biarpun sama-sama mengatasnamakan moral dan juga etika. Bagaimana mau bisa menyelesaikan masalah, bila tidak juga mau mengerti ataupun belajar apa yang sebenarnya. Semua juga bisa katanya, tapi apa ‘kata saya” bisa menjadi lebih berarti dan berguna.

Iman dan keyakinan dalam hal ini menurut saya, juga harus kita telaah lebih dalam lagi. Bagi saya, orang yang beragama berbeda dengan orang yang beriman. Orang yang beragama juga belum tentu orang yang memiliki keyakinan. Semua tidak bisa dinilai karena yang tahu hanyalah yang Maha Kuasa. Ini adalah urusan pribadi yang langsung berhadapan dengan-Nya sehingga tidak juga kemudian menjadi sebuah kebiasaan untuk menilai iman dan keyakinan yang lain juga. Dosa dan pahala adalah juga hanya Dia yang bisa menentukan. Ketulusan atas melakukan semuanya tanpa ada pamrih untuk mendapatkan sesuatu itu yang seharusnya lebih diutamakan.

Mengingatkan yang lain adalah kewajiban, dan tanggungjawab, tetapi menurut saya, sebaiknya mengingatkan saja. Jangan kemudian menuding atas iman dan keyakinan juga agama. Ini sama sekali tidak bisa membantu. Bila memang ingin berbuat dengan baik, lakukanlah dengan benar. Semua yang diajarkan oleh-Nya adalah kebenaran. Jangan diputarbalikkan lagi hanya untuk kepentingan pribadi semata. Jadikanlah surga itu milik semua bukan hanya milik sendiri.

Cobalah untuk selalu melihat dari berbagai sisi pandang, jangan hanya melihat dari kaca mata sendiri. Seperti yang juga pernah saya tuliskan, kaca mata yang dipakai sendiri pun memiliki banyak lensa. Kenapa tidak semua dipergunakan?! Tidak mampu menggunakannya atau takut bila menggunakannya?!

Yang saya uraikan sekarang ini baru masalah keperawanan, belum lagi soal alat kontrasepsi, alat reproduksi, perilaku seksual dan hubungan sejenis. Masih banyak lagi fakta-fakta lainnya yang sering diputarbalikkan dan dijadikan sarana untuk saling tuding-menuding.

Saya sangat mengharapkan bahwa kita semua sadar bahwa fakta adalah kenyataan. Fakta yang diungkapkan juga sebaiknya adalah yang sebenar-benarnya. Tidak perlu takut untuk berkata benar bila memang itu benar. Memutarbalikkan fakta dengan menjadikannya sebuah pembenaran, menurut saya sangatlah tidak manusiawi. Manusia semua pernah berbuat salah, dan siapapun yang mau mengakuinya jelas menunjukkan kebesaran jiwa. Introspeksi diri dululah sebelum menuding yang lain. Kita juga belum tentu selalu benar.

Semoga saja tulisan saya ini bisa membuka mata hati semua pembaca agar sama-sama mau memperbaiki semua yang terjadi dengan melakukan yang benar. Semua adalah dari semua dan juga untuk semua. Ini demi masa depan yang lebih baik.

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

~ oleh Mariska Lubis pada April 5, 2010.

9 Tanggapan to “Pemutarbalikkan Fakta Tentang Seks”

  1. Keperawanan sebenarnya bukanlah satu-satunya obyek, seperti yang sekarang terjadi. Keperawanan sebenarnya hanyalah salah satu alat ukur dalam kesucian. Sudah menjadi suatu hal yang normal, bahwa seorang laki laki atau pun seorang wanita menghendaki pasangan yang hanya untuk dirinya sendiri. Naluri itu merupakan bawaan sedari manusia timbul. Akan tetapi dengan berbagai macam cara manusia berusaha kelihatan suci di hadapan pasangannya. Dan akhirnya semula keperawanan itu hanyalah salah satu tolok ukur saja, bergeser berubah menjadi satu-satunya alat ukur kesucian. Sehingga dengan berbagai macam cara dibuatlah supaya menjadi perawan kembali, seperti operasi menyatukan selaput dara dan sebagainya. Dan celakanya untuk seorang pria agak sulit diketahui masih perawan atau tidak, karena pria tidak memiliki selaput dara. Sehingga akhirnya lebih sulit menentukan seorang pria itu masih perawan atau tidak berdasarkan obyek tersebut. Tetapi bagi seseorang yang mengenal dan tahu, akan mengerti melalui pembicaraan, perilaku dan perbuatan, bahwa seseorang masih bisa disebut perawan atau tidak, dan bukan semata hanya dari selaput dara saja. Konon dahulu kala, kalau dewa menghendaki persembahan seorang dara perawan, maka pendeta dewa tersebut bisa mengetahui hanya melalui penglihatan saja apakah seseorang masih perawan atau tidak.

    • sependapat sekali… dan menurut saya.. ini adalah tugas semua untuk mengembalikan semua yang benar menjadi benar.. memberikan pemikiran yang benar… terutama tentang seks… di mana masalah keperawanan ini juga menjadi salah satunya… kita tidak bisa tinggal diam terus dalam menghadapi kenyataan yang ada… perawan adalah suci… dan ini harus benar-benar dipahami… tidak disalahgunakan ataupun dipermainkan… dan perawan juga bukan soal selaput dara… tapi menurut saya… perawan itu adalah kesucian hati…

      terima kasih ya…

  2. menurut saya… Fakta/aktualitas tentang sex dari masa ke masa adalah relatif sama, hanya sedikit perbedaan ttg quantitas dan tingkat keterlihatan aktifitas tersebut di Masyarakat.
    kita hanya berdo’a & berusaha untuk tidak dilibatkan/terlibat ke sisi salah dari aktifitas tersebut, serta bisa menempatkan diri dan pengertian kita ttg hal itu, tidak perlu lebay dan shock..
    dari BC sampai AC pun sama aja… dari Tanah Arab sampai tanah Columbus pun relatif sama.
    Paman saya dah 20thnan di Arabia, bisnis pelayanan rumah tangga, mulai dari PRT TKI-TKW, sampai servis taman,dapur,KM tidur & mandi, dan pipa air. dari kaki tangannya pula saya mendapat informasi ttg “sex” disana…
    relatif sama…. hanya semua terkontrol dan diarahkan oleh pemahaman masing2 thd aturan agama yg dipegang..!
    itu aja dulu..

  3. Cara berpikir yang aneh.

  4. seks itu masih jadi hal tabu. meski zaman sudah semakin terbuka, orang masih menganggap seks itu urusan abu-abu. wajar jika fakta-fakta tersebut diputarbalikan. yah, semua orang inginy dibenarkan, bahkan ketika mereka tahu mereka salah, naluri alamiah kita sebagai manusia tetap saja mencari pembenaran. tulisan yang menarik

  5. hai, so….mariska ilustrasi artikelnya boleh jg ya, jd sejak dulu ya manusia sudah melaksanakan orgy sex, hehehehh

    koq uda sepi neh blognya, jgn ditinggal dong, ntar pelanggan surelnya jd kecewa, setelah nengok koq kgk ada yg baru

    salam so….mariska

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: